Bank Dunia memperkirakan defisit anggaran Indonesia akan bertahan di level 2,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026 dan 2027.

Proyeksi ini mencerminkan tekanan dari meningkatnya belanja subsidi energi dan pelaksanaan program prioritas berskala besar. Defisit diperkirakan baru turun tipis menjadi 2,7% pada 2028.

>>> Gol Folarin Balogun Dianulir karena Offside dalam Laga AS vs Paraguay

Tekanan Subsidi dan Program Prioritas

Konsumsi pemerintah masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global. Namun, Bank Dunia mengingatkan ketergantungan ini membawa risiko terhadap stabilitas fiskal.

Kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi terus meningkatkan alokasi subsidi energi, sehingga mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Di sisi lain, penerimaan negara diproyeksikan membaik berkat penuntasan restitusi pajak dan reformasi administrasi perpajakan.

Lonjakan harga komoditas ekspor seperti batu bara, LNG, nikel, emas, dan kelapa sawit juga memberikan bantalan fiskal jangka pendek sekitar 0,4% PDB.

>>> Matahari Buatan China Tembus Batas Fisika Reaktor Fusi Nuklir

Namun, beban pembayaran bunga utang luar negeri meningkat.

Rasio pembayaran bunga terhadap total penerimaan negara diperkirakan naik dari 18,7% pada 2025 menjadi 19,2% pada 2028.

Sepanjang 2026-2028, defisit primer diperkirakan rata-rata 0,4% PDB, yang berisiko memicu akumulasi utang pemerintah dalam jangka menengah.

>>> Tuntutan Nintendo terhadap Pocketpair Berlanjut, Potensi Ganti Rugi Kecil

Bank Dunia menekankan bahwa kebijakan subsidi yang luas memang efektif menjaga daya beli jangka pendek, tetapi berpotensi mengurangi alokasi investasi publik dan perlindungan sosial yang tepat sasaran.