Pemerintah mulai merealisasikan rencana penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram.

Program ini kini memasuki tahap implementasi dengan persiapan uji coba tabung CNG dan penetapan kota percontohan.

>>> PFII Ditargetkan Tarik Investasi Global Rp300-500 Triliun

PT Pertamina Gas (Pertagas) menyatakan kesiapannya mendukung program tersebut dari sisi infrastruktur. Dukungan ini akan diberikan jika perusahaan mendapat penugasan resmi dari pemerintah.

Corporate Secretary Pertagas, Sulthani Adil Mangatur, mengatakan perusahaan siap mengambil peran sesuai fungsi bisnisnya sebagai pengelola infrastruktur gas.

"Bilamana kami diminta untuk andil turut serta, kami siap support, melihat juga dari peran kami misalnya sebagai infrastrukturnya," ujarnya di SKG Tegal Gede Pertagas, Cikarang, Rabu (8/7/2026).

Pemerintah memprioritaskan pasokan CNG dari jaringan pipa gas yang sudah ada. Tahap awal program akan difokuskan di kota-kota besar di Pulau Jawa yang telah memiliki infrastruktur gas bumi.

Menurut Sulthani, implementasi program CNG masih memerlukan desain teknis dari pemerintah. Skema yang perlu disusun meliputi penyaluran gas, lokasi stasiun kompresi, titik pasok, hingga mekanisme bisnis.

Dari sisi infrastruktur, Pertagas menilai telah memiliki modal yang memadai.

Perusahaan saat ini mengelola jaringan pipa gas sepanjang 2.991 kilometer yang terdiri dari 61 segmen transmisi dan nontransmisi.

Khusus di Jawa Barat, Pertagas mengoperasikan jaringan transmisi sepanjang 543 kilometer dengan diameter pipa mulai 6 inci hingga 32 inci.

Jaringan ini terhubung dengan sejumlah sumber pasokan gas, seperti produksi Pertamina EP, PHE ONWJ, BBG Jatinegara, fasilitas regasifikasi Nusantara Regas, dan sistem pipa South Sumatra West Java (SSWJ).

Gas yang mengalir di jaringan tersebut saat ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri, pembangkit listrik, SPBG, CNG plant, dan jaringan gas rumah tangga.