Matahari Buatan China Tembus Batas Fisika Reaktor Fusi Nuklir
Para ilmuwan di China berhasil menembus hambatan fisika yang selama puluhan tahun dianggap mustahil dalam pengembangan reaktor fusi nuklir.
Reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), yang dikenal sebagai 'matahari buatan', sukses melampaui batas Greenwald.
>>> Tuntutan Nintendo terhadap Pocketpair Berlanjut, Potensi Ganti Rugi Kecil
Batas Greenwald adalah batas kepadatan plasma yang jika terlampaui biasanya menyebabkan ketidakstabilan dan risiko kerusakan dinding reaktor.
Strategi Baru Menjaga Stabilitas Plasma
Plasma di EAST berhasil dipertahankan pada kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali lebih tinggi dari batas Greenwald.
Keberhasilan ini dicapai melalui kombinasi teknik pemanasan Electron Cyclotron Resonance Heating (ECRH) dan pengendalian volume gas awal.
Seluruh dinding dalam reaktor diganti dengan material logam penuh untuk mencegah partikel pengotor yang memicu ketidakstabilan.
Lahirnya Teori Baru PWSO
Eksperimen ini melahirkan teori fisika baru bernama Plasma-Wall Interaction Self-Organisation (PWSO).
Teori PWSO mengungkap peran radiasi tepi plasma dalam memicu batas Greenwald dan membuka kondisi operasi baru yang disebut density-free region.
>>> Pilihan MPV Rp 400 Jutaan untuk Liburan Sekolah
Hasil pengujian lapangan sangat sesuai dengan prediksi teori PWSO, menjadi bukti pertama keberadaan kondisi operasional tersebut pada tokamak.
Para peneliti optimistis temuan ini membuka jalan menuju fusion ignition, yaitu reaksi fusi yang mampu mempertahankan energinya sendiri.
Kemampuan beroperasi di atas batas Greenwald memungkinkan peningkatan laju reaksi fusi tanpa memperbesar ukuran reaktor.
Meski demikian, pembangkit listrik fusi komersial masih memerlukan penyelesaian berbagai tantangan rekayasa dan ketahanan material.
Laporan riset ini telah diterbitkan di jurnal Science Advances, melibatkan kolaborasi internasional dari China, Huazhong University, dan Aix-Marseille University Prancis.
>>> Mengenal Tiga Peringatan Penting Setiap Tanggal 14 Juni
Reaktor EAST telah beroperasi sejak 2006 sebagai platform riset terbuka bagi ilmuwan global, termasuk dari Indonesia.
Update Terbaru
Bursa Efek Indonesia Sanksi 88 Emiten yang Belum Setor Laporan Keuangan
Sabtu / 13-06-2026, 11:36 WIB
Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.870, BI Rate Naik ke 5,5%
Sabtu / 13-06-2026, 11:36 WIB
Betrand Peto Buka Suara Saat Ruben Onsu Kembali Diserang, Singgung Sikap yang Ingin Terus Dipuji
Sabtu / 13-06-2026, 11:34 WIB
Amerika Serikat Hajar Paraguay 4-1 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Sabtu / 13-06-2026, 11:32 WIB
Harga Emas Antam 13 Juni 2026 Bertambah Rp 2.000 per Gram pada Perdagangan Pagi
Sabtu / 13-06-2026, 11:30 WIB
Pegulat Sumo Aktif Tamawashi dan Tamashoho Debut Sebagai Pengisi Suara di Anime Jaadugar
Sabtu / 13-06-2026, 11:27 WIB
Tiga BUMN Tambang Bagikan Dividen Hasil Laba Bersih 2025
Sabtu / 13-06-2026, 11:27 WIB
Aktor Remaja Muzakki Ramadhan Alami Dugaan Kekerasan di Toilet Mal
Sabtu / 13-06-2026, 11:26 WIB
Barcelona Siapkan Langkah Hukum terhadap Florentino Perez Terkait Kasus Negreira
Sabtu / 13-06-2026, 11:24 WIB
Pemerintah Tingkatkan Alokasi Rumah Subsidi di Kepulauan Nias
Sabtu / 13-06-2026, 11:22 WIB
Harga Emas Antam 13 Juni 2026 Bervariasi, Buyback Naik Rp4.000
Sabtu / 13-06-2026, 11:22 WIB
BAKTI Evaluasi Penggunaan Internet Pendidikan di Maratua, Temukan Kendala Teknis
Sabtu / 13-06-2026, 11:21 WIB
Amerika Serikat Hajar Paraguay 4-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sabtu / 13-06-2026, 11:20 WIB
Mobil Pengangkut Perlengkapan Timnas Inggris Dibobol Maling di Kansas City
Sabtu / 13-06-2026, 11:17 WIB






