Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel pada Kamis (23/7), tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Konflik baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

>>> 5 Fakta Jelang Duel Jonatan vs Victor Lai di China Open

Minyak mentah Brent naik sekitar 7 persen menjadi US$100,69 per barel, sementara WTI naik 6,17 persen ke US$92,19 per barel.

Potensi Kenaikan Lebih Tinggi

Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda mengatakan harga minyak masih berpotensi meningkat selama konflik geopolitik belum mereda.

Menurutnya, harga bisa mencapai US$120 per barel jika eskalasi terus meningkat, dan diperkirakan menyentuh US$110 per barel pada awal Agustus.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai Indonesia masih cukup aman dalam jangka pendek, tetapi sudah memasuki zona waspada.

Asumsi harga minyak mentah Indonesia dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel, sementara realisasi rata-rata hingga Mei 2026 mencapai US$91,87 per barel.

Rata-rata nilai tukar rupiah tercatat Rp17.197 per dolar AS, lebih lemah dari asumsi APBN Rp16.500 per dolar AS.

Produksi siap jual minyak juga di bawah target.

Josua mengatakan Indonesia memiliki penyangga seperti cadangan devisa US$145,6 miliar dan surplus perdagangan, namun dampak akan terasa jika harga bertahan di atas US$100 per barel selama satu kuartal.

Beban Subsidi dan Inflasi

Kenaikan harga minyak meningkatkan tekanan terhadap subsidi energi. Realisasi subsidi dan kompensasi semester I 2026 mencapai Rp233 triliun atau 52,1 persen dari anggaran setahun.

Volume BBM bersubsidi meningkat 7,8 persen dan konsumsi LPG 3 kg naik 2 persen. Huda memperkirakan beban subsidi akan semakin membengkak.

Pemerintah menghadapi dilema antara menambah subsidi, mengurangi belanja, atau menyesuaikan harga energi. Kenaikan harga minyak juga memicu imported inflation.