World Resources Institute (WRI) Indonesia mengingatkan anggaran subsidi energi berpotensi membengkak apabila sistem logistik nasional masih bergantung pada truk berbahan bakar solar di tengah gejolak harga minyak dunia.

Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi mengatakan tingginya ketergantungan angkutan barang terhadap diesel membuat sektor transportasi dan logistik nasional sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global yang kerap dipicu konflik geopolitik.

>>> Dilarang di China, Harga per Gram Teh Ini Setara 6 Gram Emas

"Setiap terjadi lonjakan harga minyak dunia, selalu diikuti oleh peningkatan belanja subsidi dan kompensasi energi pemerintah," ujar Nirarta dalam Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle Summit 2026 di Jakarta, Kamis (23/7).

Ia mencontohkan pada 2022, anggaran subsidi dan kompensasi energi melonjak hingga 261,4 persen, dari sekitar Rp152,5 triliun menjadi Rp551,2 triliun.

Menurut Nirarta, kondisi serupa kembali muncul tahun ini ketika konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia.

Ia mengatakan tingginya ketergantungan terhadap solar juga terlihat dari aktivitas distribusi barang yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Bahkan, antrean panjang truk di SPBU untuk mengisi solar dinilai menjadi gambaran rapuhnya sistem logistik nasional.

"Antrean ini bukan sekadar persoalan operasional atau keterlambatan distribusi. Lebih dari itu, antrean tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan sistem logistik nasional terhadap diesel," ujar Nirarta.

Nirarta menambahkan sekitar 80-90 persen sistem logistik Indonesia masih bertumpu pada transportasi darat. Artinya, hampir seluruh distribusi barang nasional masih ditopang truk berbahan bakar diesel.

Padahal, Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mencapai swasembada energi dalam lima hingga tujuh tahun ke depan.

"Apabila kita ingin mencapai swasembada energi nasional, maka transformasi pada angkutan barang menjadi salah satu game changer," ujarnya.