Bank Dunia secara resmi mengumumkan pada 29 Juni 2026 bahwa mereka akan meninggalkan target pengalokasian 45 persen kapasitas pinjaman tahunan untuk proyek perubahan iklim.

Kebijakan ini berubah setelah tekanan dari pemerintahan Amerika Serikat yang menginginkan Bank Dunia kembali ke mandat inti pembangunan ekonomi dan stabilitas keuangan.

>>> Cuaca Ekstrem dan Gangguan Infrastruktur Melanda Beberapa Wilayah AS

Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengubah arah strategis lembaga tersebut untuk memprioritaskan pertumbuhan lapangan kerja dan pembangunan infrastruktur yang tangguh.

Keputusan ini diambil setelah dewan eksekutif Bank Dunia meminta evaluasi independen terhadap strategi iklim yang telah berjalan lama.

Ajay Banga menyebut pendekatan baru ini sebagai "pembangunan cerdas" (smart development).

Meskipun meninggalkan target tersebut, Bank Dunia menyatakan akan tetap memantau emisi gas rumah kaca global dan manfaat adaptasi di seluruh portofolionya.

Manajemen akan terus melacak indikator iklim tertentu secara triwulanan dan tahunan.

Dalam pernyataan resmi, Bank Dunia mengatakan kerangka kerja sebelumnya telah berfungsi dengan baik dan akan diperpanjang melalui CCAP (Climate Change Action Plan).

Lembaga ini berencana mereformasi keterlibatan keuangan jangka panjang terkait pelestarian ekologi dan mitigasi risiko lingkungan.

Pejabat Bank Dunia mencatat bahwa negara-negara klien masih menunjukkan permintaan signifikan untuk proyek dengan manfaat iklim.

Bank Dunia menambahkan akan mengeksplorasi cara-cara untuk menyusun keterlibatan yang lebih baik dalam adaptasi, alam, dan polusi.

Tekanan AS dan Respons Negara Lain

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memerintahkan Bank Dunia dan IMF untuk menghilangkan target pembiayaan yang terkait dengan perubahan iklim.

AS sebagai pemegang saham terbesar Bank Dunia menolak mendukung mandat iklim sebelumnya, bersama Rusia, Kuwait, dan Arab Saudi.