Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara terlibat dalam serangkaian serangan militer intens di awal pekan ini.

Eskalasi terbaru ini menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026 menghentikan sementara konflik terbuka dalam perang AS-Israel melawan Iran.

>>> Timnas Spanyol Siapkan Rencana Bertahap untuk Lamine Yamal di Piala Dunia 2026

Meski berbagai usulan dan tawaran diplomatik telah dipertukarkan dalam beberapa pekan terakhir, kesepakatan damai yang komprehensif masih belum tercapai.

Situasi kembali memburuk setelah sebuah helikopter tempur Apache milik AS jatuh di dekat Selat Hormuz, yang kemudian memicu tuduhan dari pemerintah AS bahwa Iran sengaja menembak jatuh helikopter tersebut.

Sebagai respons, militer AS melancarkan serangan yang disebut sebagai tindakan pembelaan diri dan respons proporsional terhadap agresi Iran.

Sementara itu, Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Serangan AS Targetkan Fasilitas Komunikasi dan Reservoir Air

Militer AS menyatakan, serangan mereka menargetkan fasilitas komunikasi dan radar milik Iran.

Namun pejabat Iran mengeklaim infrastruktur sipil turut terkena dampak, termasuk dua reservoir atau tempat penampungan air bersih.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut serangan AS menghantam sejumlah wilayah strategis, seperti Sirik, Jask, Minab, Pulau Qeshm, dan pelabuhan Bandar Abbas.

Di wilayah Sirik, sebuah menara telekomunikasi dilaporkan mengalami kerusakan parah, sementara dua reservoir air hancur akibat serangan.

Kantor berita West Asia News Agency (WANA) melaporkan dua reservoir beton yang berada di Distrik Bamani, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, menjadi sasaran serangan udara.

Lokasi tersebut berjarak sekitar 1.012 kilometer dari ibu kota Teheran.