Ini bukan pertama kalinya fasilitas air Iran menjadi target serangan dalam konflik yang sedang berlangsung.

Pada 7 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh AS menyerang fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan pasokan air ke sekitar 30 desa terputus.

Fasilitas desalinasi memiliki peran vital bagi kawasan Teluk yang minim sumber air tawar karena mengubah air laut menjadi air layak konsumsi, irigasi, dan kebutuhan industri.

Serangan terhadap reservoir air kali ini dinilai sangat signifikan karena fasilitas tersebut memasok air minum bagi lebih dari 20.000 warga Kota Kouhestak dan 10 desa di sekitarnya.

>>> IHSG Berpeluang Menguji Level Psikologis 6.000 pada Kamis Ini

Menurut laporan WANA, kerugian awal akibat kerusakan dua reservoir tersebut diperkirakan mencapai antara 780.000 hingga 830.000 dolar AS.

Krisis Air Iran Makin Parah Akibat Serangan dan Kekeringan

Kondisi ini semakin memperburuk krisis air yang telah lama melanda Iran, di mana negara itu sudah menghadapi kekeringan berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir, ditambah penurunan curah hujan yang signifikan.

Berbagai waduk, sungai, dan cadangan air tanah di Iran terus mengalami penyusutan akibat kombinasi perubahan iklim, pengelolaan sumber daya air yang buruk, serta praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.

Data Aqueduct dari World Resources Institute menunjukkan tingkat tekanan air di Iran masuk kategori "sangat tinggi", yang berarti negara tersebut menggunakan lebih dari 80% sumber daya air terbarukan yang tersedia setiap tahunnya.

Tahun lalu menjadi tahun kelima berturut-turut Iran mengalami kekeringan. Pada November 2025, Bendungan Amir Kabir di Teheran hanya terisi sekitar 8% dari kapasitasnya.