Iran mengecam keras rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk membayar potensi kerugian kapal dan muatan di Selat Hormuz.

Teheran menilai langkah tersebut berbahaya karena dapat menjadi preseden baru dalam penyitaan aset negara lain.

>>> Samsung Masih Raja HP Lipat, Apple Langsung Tempel Ketat

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengingatkan bahwa kebijakan semacam itu tidak hanya berdampak pada negaranya, tetapi juga dapat mengancam keamanan aset milik negara lain di masa depan.

Menurut Araghchi, penyitaan aset suatu negara untuk membayar klaim yang tidak berkaitan merupakan langkah yang berpotensi merusak tatanan hukum internasional.

"Menyita aset negara lain untuk membayar klaim yang tidak terkait merupakan preseden yang berbahaya.

Mereka yang merayakan atau mengambil keuntungan dari dana tersebut harus ingat bahwa begitu pemerintah melegitimasi penyitaan, maka tidak ada aset milik siapa pun yang aman.

Kekacauan yang akan terjadi tidak akan berlangsung indah atau damai," kata Araghchi melalui akun X, Jumat (24/7/2026).

Pernyataan itu disampaikan setelah Donald Trump mengumumkan rencana penggunaan aset Iran yang berada di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat untuk mengganti kerugian apabila terjadi kerusakan terhadap kapal, muatan, maupun aset lain di Selat Hormuz.

Trump menyampaikan kebijakan tersebut melalui platform media sosial Truth Social miliknya.

>>> Pekan Box Office Jepang: Kingdom ke-5 Puncaki Tangga, Film Anime You, Fireworks, and Our Promise di #5

"Segala bentuk kerusakan, yang menimpa kapal, muatan, atau apa pun yang terkait dengannya, akan diganti rugi menggunakan dana Iran yang berada dalam kepemilikan dan kendali Amerika Serikat," tulis Trump.