Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan kelompok milisi Houthi Yaman di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Trump di Truth Social pada Kamis (23/7) setelah Houthi menembaki dua kapal Arab Saudi di Laut Merah.

>>> Gara-Gara AI, Aktor China Banting Setir Jualan Sayur di Desa

Trump sebelumnya mengapresiasi Houthi yang dinilai cukup bertanggung jawab dengan tidak ikut campur dalam konflik Iran.

"Setahun lalu, Amerika Serikat menyerang Houthi dengan sangat dahsyat karena campur tangan mereka dalam perdagangan. Sejak saat itu, mereka bertindak sangat bertanggung jawab," tulis Trump.

"Sayangnya, sekarang mereka mulai lagi, menembaki dua kapal Arab Saudi tadi malam.

Biarkan kebenaran ini menjadi bukti bahwa jika mereka melakukan ini lagi, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah proksi Iran," lanjutnya.

Trump menegaskan akan menjatuhkan "hukuman militer besar" kepada Iran dan Houthi jika serangan serupa terjadi lagi.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Rabu (22/7) mengatakan pihaknya telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah.

>>> 5 Rutinitas Pagi Efektif untuk Cegah Asam Urat Kumat

Kedua kapal itu bernama Encelia dan Layla. Serangan diluncurkan karena kapal tersebut melanggar blokade yang dijalankan Houthi.

Hubungan Houthi dan Saudi kembali memanas setelah pemerintah Yaman yang didukung Saudi mengebom bandara Sanaa yang dikuasai Houthi pada 13 Juli lalu.

Houthi marah dan menuduh Saudi sebagai dalang serangan itu.

Pasalnya, pesawat Iran yang dimaksud membawa pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Pada 20 Juli, Houthi memberlakukan blokade maritim terhadap Saudi berdasarkan prinsip 'mata ganti mata'.

Houthi menyebut Saudi telah memberlakukan pengepungan yang tidak adil selama hampir 12 tahun dan menjarah sumber daya mereka.

>>> 6 Rekomendasi Semprotan Tabir Surya SPF 50 untuk Kulit Berminyak, Ringan dan Tak Lengket

Riyadh membantah tuduhan itu.