Ia menilai sistem pendidikan sebelumnya turut berkontribusi.

>>> Hakim AS Tunda Putusan Gugatan 3,8 Juta Bitcoin Terlantar

Selama bertahun-tahun, siswa terbiasa membaca hanya untuk menjawab ujian atau mencari informasi tertentu, bukan untuk memahami isi bacaan.

"Mereka terbentuk dalam pola membaca yang hanya memindai informasi," kata O'Malley.

Kemampuan itu berguna untuk artikel berita atau konten internet, tetapi kurang efektif untuk novel, filsafat, atau karya akademik kompleks.

Bukan Hanya Soal Nilai

Profesor teologi di Abilene Christian University, Brad East, menilai banyak mahasiswa sebenarnya tidak membenci membaca.

Masalah utamanya adalah kurang percaya diri dan tidak memiliki daya tahan membaca dalam waktu lama.

Ia mengatakan ketika tekanan nilai dikurangi, mahasiswa cenderung lebih bersedia mencoba membaca materi yang diberikan.

Sementara itu, profesor di Kellogg School of Management, Northwestern University, Brooke Vuckovic, mengatakan sekitar 40%-50% mahasiswa bisnis yang diajarnya mengaku bukan pembaca aktif atau merasa kesulitan membaca.

Namun, begitu mereka membiasakan diri, perubahan kemampuan biasanya terlihat cepat.

Di tengah menurunnya minat baca Gen Z, kebiasaan membaca justru masih menjadi ciri umum kalangan superkaya.

Survei JPMorgan pada 2025 terhadap lebih dari 100 miliarder menemukan bahwa membaca merupakan kebiasaan yang paling banyak dimiliki para pencapai sukses.

Para akademisi mengingatkan dampak menurunnya kemampuan membaca tidak hanya pada nilai kuliah atau karier. Menurut Wilson, membaca membantu memahami perspektif orang lain, meningkatkan empati, serta membangun rasa kebersamaan.

Ia khawatir jika budaya membaca terus menurun, berbagai persoalan sosial dapat memburuk.

>>> IHSG Anjlok ke Level 5.520,8, Tertekan Data Tenaga Kerja AS dan Pelemahan Rupiah

"Saya pikir polarisasi, kecemasan, kesepian, hingga berkurangnya persahabatan dapat terjadi ketika masyarakat tidak lagi membaca bersama," ujarnya.