Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026). Indeks ambles 779,11 poin atau 1,38 persen ke level 5.520,8.

Koreksi ini dipicu oleh sentimen negatif global dan tekanan ekonomi domestik. Pelemahan juga terjadi di mayoritas bursa global dan pasar regional Asia.

>>> Hindari Menyimpan 4 Barang Ini di Kolong Tempat Tidur agar Tidak Rusak

Sentimen Eksternal dan Domestik

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi menjadi pemicu utama.

Data Nonfarm Payrolls AS menunjukkan penambahan 172.000 pekerjaan. Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Selain itu, nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus Rp18.165 per dolar AS. Kondisi ini memperberat pergerakan IHSG.

>>> Ditjen Pajak Perkuat Coretax untuk Genjot Penerimaan Negara

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa isu revisi Undang-Undang P2SK dan defisit APBN Mei 2026 sebesar Rp180,4 triliun turut mempengaruhi sentimen domestik.

Data defisit tersebut dinilai krusial dalam mendukung langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah yang bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS.

Memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah antara AS, Iran, Israel, dan Hizbullah juga membuat investor global cenderung berhati-hati.

>>> OPEC+ Sepakat Naikkan Target Produksi Minyak Mulai Juli 2026

Analis menyarankan investor untuk fokus pada saham dengan fundamental solid, valuasi murah, dan potensi pembalikan tren. Manajemen risiko yang disiplin juga diperlukan dalam menghadapi volatilitas jangka pendek.