Fenomena mengejutkan terjadi di kalangan mahasiswa Generasi Z di Amerika Serikat. Banyak dari mereka disebut kesulitan membaca teks panjang, bahkan ada yang tidak mampu memahami satu kalimat utuh.

Kondisi ini memaksa sejumlah perguruan tinggi mengubah metode pengajaran. Dosen harus beradaptasi agar mahasiswa tetap bisa mengikuti perkuliahan.

>>> Suzuki Luncurkan Jimny Terbaru dengan Fitur ADAS di Malaysia

Profesor humaniora dan sastra klasik di Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, mengaku terkejut. "Ini bukan sekadar ketidakmampuan berpikir kritis.

Ini adalah ketidakmampuan membaca kalimat," katanya dikutip dari Fortune, Senin (8/6/2026).

Wilson mengatakan banyak mahasiswa datang ke kelas tanpa membaca materi yang diberikan. Bahkan saat teks dibacakan bersama, sebagian masih kesulitan memahami isi kalimat.

"Saya merasa harus membacakan materi dengan suara keras karena tidak ada jaminan mereka membacanya malam sebelumnya," ujarnya.

Pendekatan Baru di Kelas

Wilson kini menggunakan pendekatan berbeda.

Ia sering membacakan teks bersama mahasiswa, membahasnya kalimat demi kalimat, hingga mengulang satu puisi atau karya sastra selama satu semester.

Menurutnya, langkah itu bukan berarti menurunkan standar akademik. "Saya hanya harus menggunakan pendekatan pengajaran yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama," katanya.

Hal serupa diungkapkan profesor teologi di University of Notre Dame, Timothy O'Malley.

Dulu ia biasa memberikan tugas membaca 25 hingga 40 halaman per pertemuan, namun kini jumlah itu dianggap terlalu berat.

"Dulu mahasiswa akan mengerjakannya atau mengakui kesulitan. Sekarang, jika diberi bacaan sebanyak itu, mereka sering tidak tahu harus mulai dari mana," ujarnya.

O'Malley mengatakan sebagian mahasiswa lebih memilih membaca ringkasan buatan AI daripada materi asli. Akibatnya, mereka kehilangan proses memahami argumen secara mendalam.