Proses perundingan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan hampir tidak menunjukkan kemajuan berarti pada Senin (8/6/2026), tepat 100 hari setelah perang meletus.

Kebuntuan ini terjadi akibat sengketa aset finansial dan rentetan serangan baru yang menekan kesepakatan gencatan senjata.

>>> Maybank Indonesia Alokasikan Investasi Perkuat Sistem Keamanan Siber

Serangan Baru Memperkeruh Situasi

Komando Sentral AS (Centcom) mengumumkan bahwa mereka telah menembak jatuh dua pesawat nirawak tempur Iran di Selat Hormuz pada Minggu (7/6) dini hari.

Selain itu, enam rudal balistik yang mengarah ke Bahrain dan Kuwait juga berhasil dicegat pada hari Jumat sebelumnya.

Sebagai respons, militer AS melancarkan serangan balasan yang menggempur situs radar pengawas pantai milik Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.

Sengketa Aset Finansial

Washington dan Teheran berselisih mengenai nasib miliaran dolar aset finansial Iran yang dibekukan oleh AS.

Pemerintahan AS mulai menggulirkan rencana untuk mengalihkan aset-aset tersebut guna membantu pemulihan negara-negara sekutu di Teluk Persia seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.

Presiden Donald Trump menegaskan posisinya dalam wawancara dengan NBC: "Jika mereka bersikap baik, jika mereka menunjukkan kinerja yang baik, baru kita mulai berbicara [tentang pencairan aset]."

Pihak Teheran menolak keras persyaratan tersebut dan bersikeras bahwa seluruh aset harus segera dicairkan demi kelanjutan diskusi mengenai perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pernyataan Trump soal Kemampuan Militer Iran

Trump mengakui bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer yang signifikan meskipun ia mengklaim persenjataan musuhnya sudah jauh berkurang.

>>> Sembilan Emiten BEI Masuki Periode Cum Dividen, Nilai hingga Rp465 per Saham