Seorang ibu dua anak, Gini Harrison, didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium 4 setelah awalnya mengira gejala nyeri saat menyusui sebagai cedera otot biasa.

Rasa sakit yang terbatas di area bahu membuatnya berpikir itu hanya akibat posisi menggendong dan menyusui bayinya yang lahir pada akhir Februari 2021.

>>> OJK Catat Risiko Kredit Multifinance Meningkat per April 2026

Dokter umum awalnya meresepkan obat penghilang rasa sakit, namun kondisinya memburuk 10 bulan kemudian. Ia pun dirujuk untuk menjalani MRI di Klinik Saxon pada Oktober 2021.

Hasil MRI menunjukkan tumor di paru-paru kanan atas dan tulang belikat.

Harrison, yang bekerja sebagai profesor psikologi di Open University, terkejut karena ia bukan perokok dan tidak memiliki gejala khas seperti sesak napas atau batuk.

Diagnosis dan Mutasi Genetik Langka

"Satu-satunya gejala yang saya alami adalah nyeri bahu yang semakin parah dan tidak kunjung hilang," kata Gini Harrison.

Diagnosis awal sempat mengarah pada masalah otot akibat posisi menyusui yang kurang baik. Apalagi, janji temu medis saat pandemi COVID-19 hanya dilakukan melalui telepon.

"Ketika tidak kunjung membaik, mereka mengatakan mungkin karena saya tidak bisa mengistirahatkan tubuh saya sebagai seorang ibu dengan bayi yang selalu saya gendong," ungkapnya.

Ia akhirnya menemui spesialis setelah sembilan bulan merasa frustrasi.

"Mereka menyuruh saya melakukan MRI, yang hasilnya menunjukkan tumor di paru-paru kanan atas dan satu lagi di tulang belikat.

Itu adalah hal terakhir yang saya duga akan terjadi pada saya saat cuti melahirkan," tuturnya.

Harrison mengidap kanker paru-paru non-sel kecil EGFR Exon 20 (NSCLC) yang dipicu mutasi genetik. Mutasi ini mencakup 10-15 persen kasus di Inggris dan lebih umum menyerang perempuan non-perokok.