Para ahli mengaitkan peningkatan kasus ini dengan polusi udara, asap masakan, radon, asap rokok pasif, kompor kayu atau batu bara, serta mutasi genetik.

Setelah merespons baik kemoterapi dan radioterapi di Guy’s and St Thomas’ Hospital London, Harrison kini kembali bekerja dan rutin menjalani pemindaian tiga bulan sekali.

"Kanker paru-paru dapat terjadi pada siapa saja. Yang kalian butuhkan hanyalah paru-paru," kata Gini Harrison.

Melalui pengalamannya, Harrison ingin meruntuhkan stereotip bahwa kanker paru-paru hanya menyerang pria tua yang merokok berat.

"Jumlah perempuan yang terkena kanker paru-paru yang tidak terkait dengan merokok dua kali lipat lebih banyak daripada pria, dan jumlahnya meningkat pada orang di bawah 55 tahun," tambahnya.

Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri jika merasakan ada yang salah dengan kesehatan. "Citra stereotip pasien kanker paru-paru pada pria tua perokok seumur hidup itu salah.

Siapa pun bisa terkena. Diagnosis dini sangat penting," tegasnya.

Harrison juga meminta pasien dengan diagnosis serupa untuk tidak berputus asa. "Jangan panik.

Ketika pertama didiagnosis, rasanya seperti akhir sudah dekat, tetapi itu tidak selalu demikian," katanya.

Perkembangan ilmu medis kini menghadirkan terapi target dan imunoterapi yang memberikan harapan baru. "Ketika saya pertama didiagnosis, tidak ada pengobatan untuk mutasi genetik spesifik saya di Inggris.

>>> Pabrikan Motor Eropa Beradu Performa di Sirkuit Balaton Park MotoGP 2026

Sekarang ada dua dan beberapa lagi sedang dikembangkan. Bicaralah dengan ahli onkologi untuk mengetahui mutasi genetik dan selidiki pilihan pengobatan yang tersedia," pungkasnya.