Peran guru kini tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membantu siswa memahami pengelolaan keuangan sejak dini.

Hal ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang memasukkan literasi keuangan dalam pembelajaran ekonomi di SMA.

>>> BI Catat Transaksi QRIS Antarnegara Tembus Rp1,52 Triliun pada Kuartal II 2026

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan remaja usia 15-17 tahun baru mencapai 51,68 persen, di bawah rata-rata nasional 66,46 persen.

Melihat kondisi tersebut, FWD Insurance meluncurkan program FWD Financial Literacy for Educators untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengajarkan literasi keuangan.

Program ini melibatkan 30 guru ekonomi SMA dari berbagai sekolah di Jakarta selama Februari hingga Juni 2026.

Melalui para guru tersebut, materi literasi keuangan diharapkan menjangkau sekitar 2.700 siswa dengan pendekatan praktis.

Kolaborasi untuk Edukasi Keuangan

Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, mengatakan guru memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang mampu mengambil keputusan finansial bijak.

>>> Chandra Asri Olah Sampah Plastik Jadi Minyak Pirolisis, Dorong Ekonomi Sirkular

Program ini dikembangkan bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI), mulai dari penyusunan modul hingga sertifikasi guru.

Relawan dari FWD Insurance juga terlibat dalam penyusunan materi agar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di kelas.

Ketua Subkelompok Kurikulum dan Penilaian Bidang SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Dr. Joko Arwanto, menyebut kolaborasi pemerintah, pendidikan, dan swasta penting untuk memperkuat literasi keuangan di sekolah.

Deputi Direktur Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK, Halimatus Sa'diyah, menilai guru berperan besar dalam memperluas edukasi keuangan kepada generasi muda.

>>> Transformasi Digital Jadi Kunci Daya Saing Brand Lokal di Tengah Tantangan Ekonomi

Pemahaman keuangan sejak sekolah akan membantu siswa mengambil keputusan finansial yang lebih bijak di masa depan.