Sebuah studi baru dari University of Michigan menantang salah satu pilar utama biologi evolusi.

Penelitian yang diterbitkan di Nature Ecology & Evolution pada 14 November 2025 ini mengungkap bahwa mutasi menguntungkan terjadi lebih sering dari yang diperkirakan model klasik.

in1

>>> Timnas Belanda Ungguli Swedia Dua Gol di Babak Pertama

Namun, sebagian besar keuntungan genetik ini tidak bertahan cukup lama untuk menjadi ciri permanen suatu spesies.

Temuan ini menjelaskan mengapa evolusi tidak pernah mampu membuat kita beradaptasi sempurna dengan lingkungan.

Teori Netral yang Digugat

Selama lebih dari setengah abad, Teori Netral Evolusi Molekuler menjadi acuan utama.

Teori yang diajukan pada 1960-an ini mengasumsikan bahwa sebagian besar perubahan genetik permanen bersifat netral, tidak membantu atau merugikan organisme.

“Kami mengatakan bahwa hasilnya netral, tetapi prosesnya tidak netral,” jelas Dr. Jianzhi Zhang, profesor ekologi dan biologi evolusi di University of Michigan dan penulis senior studi tersebut.

Data yang Membongkar Asumsi Lama

Untuk menguji asumsi ini, peneliti Siliang Song dan Dr. Zhang menganalisis data pemindaian mutasi mendalam.

Mereka memeriksa 12.267 mutasi pada 24 gen dalam ragi, lalat buah, dan E. coli.

Hasilnya mengejutkan: lebih dari 1% mutasi tersebut sebenarnya menguntungkan organisme. Dalam biologi evolusi, ini adalah angka yang sangat tinggi.

Jika mutasi menguntungkan ini bertahan secara permanen, genom akan berevolusi lebih cepat dari yang diamati di alam.

Tim peneliti kemudian menemukan bahwa lingkungan yang berubah dengan cepat memecahkan teka-teki ini.

Mutasi genetik yang meningkatkan kelangsungan hidup dalam satu kondisi tertentu bisa menjadi berbahaya ketika kondisi berubah.

>>> Kemenhaj: 62 Persen Jamaah Haji Telah Tiba di Indonesia