Para peneliti menyebut dinamika ini sebagai Adaptive Tracking with Antagonistic Pleiotropy. Sederhananya, populasi harus terus-menerus mengejar target lingkungan yang bergerak.

Eksperimen Laboratorium Membuktikan

Tim kemudian menguji kerangka ini melalui eksperimen evolusi 800 generasi menggunakan ragi.

in1

Mereka membagi ragi menjadi dua kelompok: satu berevolusi di lingkungan stabil, yang lain bergiliran melalui 10 media pertumbuhan berbeda setiap 80 generasi.

Seperti yang diduga, kelompok lingkungan yang berubah mengakumulasi lebih sedikit mutasi menguntungkan permanen dibandingkan kelompok stabil.

Mutasi menguntungkan muncul secara teratur di kedua kelompok, tetapi ragi yang berputar kehabisan waktu.

Mutasi yang sebelumnya menguntungkan menjadi kerugian begitu lingkungan berubah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang pernah mencapai kesesuaian sempurna dan permanen dengan lingkungannya.

Dr. Zhang mencatat bahwa proses yang gelisah ini kemungkinan juga berlaku pada manusia.

Lingkungan modern kita sangat berbeda dari lanskap kuno yang membentuk gen kita, sehingga banyak sifat yang membantu nenek moyang kita mungkin tidak cocok dengan dunia saat ini.

Studi ini tidak sepenuhnya membuang Teori Netral. Sebaliknya, ini merekonsiliasi pola genom dengan eksperimen.

Genom tampak berevolusi secara netral karena sebagian besar mutasi menguntungkan berumur pendek, bukan langka.

>>> Tersangka Perusakan Ruko di Cilincing Resmi Ditahan Polisi

Pada akhirnya, evolusi beroperasi kurang seperti pendakian stabil menuju kesempurnaan, dan lebih seperti pengejaran permanen terhadap target yang tidak pernah berhenti bergerak.