Raksasa farmasi asal Inggris, GSK, mengumumkan akuisisi terhadap perusahaan bioteknologi Amerika Serikat, Nuvalent. Nilai transaksi ini mencapai US$10,6 miliar atau sekitar Rp190,2 triliun.

Melansir Reuters pada Selasa (9/6/2026), GSK membeli saham Nuvalent seharga US$124 per lembar. Harga tersebut mencerminkan premi sekitar 40% dari harga penutupan sebelumnya.

>>> John Herdman Targetkan Timnas Indonesia Jaga Tren Kemenangan Beruntun

Langkah ini menegaskan tren akuisisi di industri farmasi global. Perusahaan besar kini gencar mengakuisisi pengembang obat inovatif untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.

Nuvalent fokus pada pengembangan terapi kanker paru-paru berbasis target molekuler. Perusahaan memiliki dua kandidat obat utama, yaitu zidesamtinib dan neladalkib.

Kedua obat tersebut saat ini berada dalam tahap akhir pengembangan. Manajemen menunggu keputusan regulator AS terkait izin edar.

Jika mendapat persetujuan, kedua produk ini diproyeksikan menjadi sumber pendapatan baru bagi GSK. Akuisisi ini juga memperkuat portofolio onkologi GSK dalam persaingan dengan kompetitor seperti AstraZeneca.

>>> Iran Protes FIFA Usai Jatah Tiket Piala Dunia Dicabut Sepihak

Dampak bagi Pertumbuhan Korporasi

Proses pengembangan obat baru dari nol memakan waktu lama dan biaya besar. Oleh karena itu, akuisisi menjadi pilihan logis bagi banyak korporasi besar.

Manajemen GSK menilai masuknya Nuvalent akan mengamankan lini bisnis kanker yang menjadi fokus utama. Langkah ini juga diandalkan untuk menjaga stabilitas pendapatan saat produk lama kehilangan hak paten.

Perusahaan memproyeksikan kontribusi penjualan dan laba operasional dari transaksi ini akan mulai terlihat dalam beberapa tahun ke depan.

>>> Jaksa Tolak Pleidoi Nadiem Makarim, Tetap Tuntut 18 Tahun Penjara

Dampak positif akan optimal setelah integrasi kedua perusahaan selesai.