"Saya adalah seseorang yang tidak pernah merokok, dan secara umum relatif sehat. Saya tidak memiliki gejala yang biasanya dikaitkan dengan kanker paru-paru.

Saya tidak mengalami sesak napas, batuk, atau gejala paru-paru lainnya. Saya benar-benar tidak percaya.

Rasanya seperti seluruh dunia saya tiba-tiba runtuh," katanya.

Berbagi Diagnosis dengan Anak

Harrison mengaku sangat awam dengan kondisi kanker paru-paru yang menyerang non-perokok sebelum diagnosisnya. "Saya belum pernah mendengar tentang kanker paru-paru non-perokok.

Saya selalu mengaitkan kanker paru-paru dengan merokok. Saya tidak pernah berpikir itu bisa terjadi pada saya, apalagi di usia semuda ini," ujarnya.

Kabar penyakitnya sempat membuat Harrison takut untuk menyampaikannya kepada kedua anaknya, Emily dan Michael.

"Anak laki-laki saya masih terlalu kecil, tetapi anak perempuan saya berusia lima tahun saat saya didiagnosis, jadi kami memutuskan untuk sejujur mungkin dengannya," jelasnya.

Harrison memilih membagikan informasi secara bertahap.

>>> Timnas Indonesia Gulung Oman 3-0 di GBK, Media Vietnam Sorot Taktik Dinamis

"Kami memberinya informasi sedikit demi sedikit tentang fakta bahwa saya tidak begitu sehat dan harus melakukan banyak tes.

Kami memberi tahu dia bahwa saya akan dirawat di rumah sakit untuk kemoterapi dan itu mungkin membuat saya sakit," tambahnya.

Sebagai psikolog, ia meyakini kejujuran yang disesuaikan dengan usia adalah langkah terbaik. "Anak-anak cukup intuitif.

Jika mencoba menyembunyikan sesuatu, imajinasi mereka bisa menjadi liar. Emily tahu saya hanya kurang beruntung.

Saya memastikan dia tahu itu bukan kesalahannya dan tidak menular," katanya.

Data Cancer Research UK menunjukkan 14 persen penderita kanker paru-paru di Inggris tidak pernah merokok.

Sementara itu, Ruth Strauss Foundation mencatat sekitar 7.000 dari 50.000 kasus tahunan adalah non-perokok.