"Sehingga pemerintah membutuhkan dolar yang cukup banyak untuk menanggulangi defisit," ujar Ibrahim.

Faktor Lain Penekan Rupiah

Faktor penekan rupiah berikutnya adalah kewajiban emiten di bursa efek membayarkan dividen menggunakan dolar AS.

Beban utang luar negeri yang jatuh tempo juga menuntut likuiditas tinggi, dengan pembayaran bunga hampir Rp600 triliun.

"Utang baru di luar negeri ini rupanya sedikit sepi.

Akhirnya membuka lah lelang di bursa Tiongkok, yaitu dengan Panda Bond dengan bunga 2,3% sampai 2,5%.

Ini pun juga minat investor itu sedikit berkurang di Tiongkok. Ini yang membuat rupiah terus mengalami pelemahan," papar Ibrahim.

Kondisi diperparah oleh perilaku masyarakat yang cenderung ikut-ikutan tren (FOMO) dengan mengonversi dana simpanan ke valuta asing. Perpindahan dana dari tabungan konvensional atau emas ke valas melonjak tajam.

"Buktinya di bulan April, 24% tabungan masyarakat itu berpindah ke valuta asing. Pasalnya masyarakat tahu bahwa rupiah ini bakal ke Rp22.000.

>>> Buku Harry Potter Edisi Pertama Terjual Rp374 Juta di Lelang

Nah sehingga setelah jangka pendek, mereka akan mendapatkan keuntungan," ungkapnya.