PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan prioritas utamanya adalah meningkatkan kualitas, transparansi, dan integritas pasar modal, bukan sekadar memperbanyak jumlah saham yang masuk ke indeks global.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa pengungkapan saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) merupakan bagian dari upaya memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia.

>>> Argentina Dituding Dapat Jalan Mulus ke Semifinal Piala Dunia 2026, Scaloni Akhirnya Buka Suara

Status HSC menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell dalam menentukan saham yang layak masuk ke dalam indeks mereka.

"Kami tentu ingin saham-saham Indonesia masuk ke indeks global dengan proses yang sehat dan sesuai standar yang berlaku.

Transparansi dan integritas pasar menjadi hal yang paling diperhatikan oleh penyedia indeks global maupun investor internasional," ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Jeffrey mengakui bahwa kebijakan ini dapat menyebabkan beberapa saham Indonesia keluar dari indeks global dalam jangka pendek.

Namun, langkah itu merupakan bagian dari proses pembenahan pasar yang justru akan memperkuat posisi Indonesia dalam jangka panjang.

"Dalam jangka pendek memang mungkin ada beberapa saham yang keluar dari indeks global.

Tetapi untuk jangka menengah dan panjang, kami optimistis semakin banyak saham Indonesia yang memenuhi standar dan dapat masuk ke indeks MSCI, FTSE, maupun S&P," ungkap dia.

>>> ESI Proyeksikan Limbah HPAL RI Capai 1,4 Miliar Ton di 2035

Menurut Jeffrey, peningkatan transparansi dan integritas pasar merupakan fondasi utama untuk menarik lebih banyak investor global.

BEI terus berdiskusi dengan penyedia indeks internasional dan investor institusi agar reformasi yang dilakukan sejalan dengan praktik terbaik di pasar global.