Lebih dari satu dekade setelah Satoru Iwata menyampaikan pandangannya tentang PHK dan moral kerja, komentar mendiang presiden Nintendo itu kembali menjadi perbincangan hangat.

Industri video game saat ini tengah mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja besar-besaran.

>>> Samsung Percepat Pembangunan Pabrik Chip di Yongin, Target Produksi 1 Juta Wafer per Bulan

Pada era sulit Nintendo dengan Wii U dan Nintendo 3DS, Iwata berargumen bahwa pengurangan staf mungkin memperbaiki kinerja keuangan jangka pendek.

Namun, langkah itu pada akhirnya akan merusak kemampuan perusahaan menciptakan game hebat.

Filosofi tersebut kembali mengemuka di tengah PHK yang terjadi di beberapa penerbit besar. Banyak pengembang dan penggemar menyoroti pendekatan berbeda Nintendo di bawah kepemimpinan Iwata.

Kreativitas Butuh Keamanan Kerja

Pernyataan Iwata muncul dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan ke-73 Nintendo pada 2013.

Saat itu investor mempertanyakan mengapa perusahaan tidak melakukan restrukturisasi meski melaporkan kerugian operasional selama beberapa tahun.

Menurut tanya jawab resmi dengan investor, Iwata menjelaskan bahwa kepercayaan diri karyawan sangat penting untuk menghasilkan game yang berkesan.

Ia mengatakan, "Jika kita mengurangi jumlah karyawan demi hasil keuangan jangka pendek yang lebih baik, moral karyawan akan menurun."

Ia menambahkan, "Saya sungguh ragu karyawan yang takut di-PHK akan mampu mengembangkan perangkat lunak yang bisa mengesankan orang di seluruh dunia."

>>> Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Berhenti Konsumsi Gula Selama 30 Hari?

Pernyataan itu mencerminkan gaya kepemimpinan yang sama saat Iwata memotong gajinya sendiri sebesar 50% pada 2011.

Langkah itu diambil setelah peluncuran Nintendo 3DS yang mengecewakan, tanpa mengurangi jumlah karyawan.

Iwata juga mengakui bahwa PHK bisa memperbaiki kinerja keuangan sementara. Namun, ia berargumen hal itu akan melemahkan Nintendo dalam jangka panjang.