Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu (15/7) sore.

Mata uang Garuda berada di level Rp18.068 per dolar AS, naik 23 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

>>> PSM Makassar Resmi Tunjuk Kembali Darije Kalezic sebagai Pelatih

Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya.

Yuan China naik 0,02 persen, peso Filipina menguat 0,03 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,03 persen.

Namun, beberapa mata uang Asia justru melemah.

Dolar Singapura turun 0,02 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,23 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

Pergerakan mata uang utama negara maju terhadap dolar AS juga bervariasi.

Euro Eropa menguat 0,03 persen, poundsterling Inggris naik 0,04 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,15 persen.

Sementara dolar Kanada menguat 0,05 persen, dan franc Swiss melemah 0,10 persen.

>>> 32 Tahun Hilang, Penalti Kaki Kiri Spanyol Kembali Muncul

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah didorong oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan sehingga memicu meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.

com, Rabu (15/7).

Sentimen positif lainnya datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia.

"Rupiah juga masih mendapat sentimen positif dari dipertahankannya peringkat kredit Indonesia oleh S&P," imbuhnya.

Meski demikian, Lukman menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas. Hal ini akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

>>> 32 Tahun Hilang, Penalti Kaki Kiri Spanyol Kembali Muncul

"Namun, penguatan masih terbatas akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia," katanya.