Nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp18.070 per dolar AS pada perdagangan Rabu (15/7) pagi.

Mata uang Garuda menguat 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

>>> Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Iran, Teheran Aktifkan Rudal Pertahanan

Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga terapresiasi terhadap dolar AS.

Yuan China menguat 0,09 persen, peso Filipina naik 0,10 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,26 persen.

Dolar Singapura terapresiasi 0,07 persen, yen Jepang naik 0,10 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen.

Hanya won Korea Selatan yang melemah 0,05 persen terhadap dolar AS.

Tren serupa juga terjadi pada mata uang utama negara maju yang mayoritas menguat terhadap greenback.

Euro Eropa naik 0,16 persen, poundsterling Inggris terapresiasi 0,09 persen, dolar Australia menguat 0,17 persen, dolar Kanada naik 0,11 persen, dan franc Swiss menguat 0,07 persen.

>>> Cara Cepat Terima Bansos Tahap 3 2026 di 23 Wilayah Prioritas Kemensos

Proyeksi Penguatan Rupiah

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini.

Pelemahan dolar AS terjadi setelah inflasi Amerika Serikat tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah cukup besar setelah data inflasi AS lebih rendah dari harapan.

Kondisi ini memicu meningkatnya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve," kata Lukman.

Meski demikian, ia menilai penguatan rupiah masih akan terbatas. Harga minyak mentah dunia tetap tinggi akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

>>> Viral Motor Penggerak BYD Copot di China, Perusahaan Buka Suara

Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS pada perdagangan hari ini.