Nilai tukar rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen ke level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona merah terhadap dolar AS.

>>> Polri Gandeng Pegadaian Uji Kadar 74 Kg Emas Eks Jampidsus Febrie

Yuan China turun 0,08 persen, peso Filipina melemah 0,07 persen, dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,07 persen.

Dolar Singapura melemah 0,08 persen, yen Jepang turun 0,27 persen, won Korea Selatan terapresiasi 0,14 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0 persen.

Sementara itu, mata uang utama negara maju bervariasi terhadap dolar AS.

Euro Eropa turun 0,13 persen, poundsterling Inggris melemah 0,04 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,20 persen.

Dolar Kanada menguat 0,10 persen, sedangkan franc Swiss menguat 0,04 persen.

>>> Samsung Dikabarkan Luncurkan Ponsel Slideable Sebelum Galaxy Z TriFold 2

Penyebab Pelemahan Rupiah

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah akibat kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, konflik geopolitik AS-Iran yang memanas dan lonjakan harga minyak memengaruhi rupiah.

"Prospek kenaikan harga energi yang berkelanjutan telah menghidupkan kembali kekhawatiran akan guncangan inflasi lainnya, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," ujar Ibrahim.

Dari sisi internal, pergerakan rupiah dipengaruhi dugaan kasus korupsi yang menyeret Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah dan konflik antarpenegak hukum.

Ibrahim menjelaskan kasus tersebut dapat berdampak pada lingkungan bisnis dan kinerja ekonomi. "Negara yang memiliki sistem hukum buruk seperti Indonesia cenderung terhambat kinerja dan pertumbuhan ekonominya," tambahnya.

>>> Galaxy Z TriFold Terima Patch Keamanan Juli 2026

Ia memperkirakan pergerakan rupiah besok (14/7) berada dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS.