Umah, ibu santri korban pembakaran di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mengungkap bahwa anaknya sempat mengaku dibakar saat menjalani perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Ia hadir dalam rapat audiensi di Komisi III DPR pada Senin (13/7) didampingi tim hukum dari Hotman Paris Hutapea.

>>> Kane Sebut Inggris Cari 'Kepingan yang Hilang' Jelang Lawan Argentina

Karena tidak bisa berbahasa Indonesia, Umah berbicara melalui penerjemah Titi Tantri.

Menurut Titi, korban bernama Sahril Sobirin awalnya tidak mau bercerita tentang perundungan di pondok pesantren.

Namun, tiga hari setelah insiden pembakaran pada Desember 2025, ia baru mengaku dibakar di sebuah ruang kosong di kompleks pesantren.

"Akhirnya begitu terjadi pembakaran, tiga hari setelah terjadi pembakaran, baru bisa berbicara si anak.

Baru menyampaikan bahwa dia itu dibakar di dalam ruangan itu adalah ruangan kosong," ujar Titi dalam rapat.

Ia menambahkan, anak pimpinan pesantren sempat mengancam akan membakar korban tiga hari sebelum kejadian.

>>> WHO: 1 dari 5 Orang Berisiko Kanker, Ini Faktor Pemicunya

Meski ibunya sempat menanyakan apakah ia dibully atau dipukul di sekolah, korban tidak berani mengaku.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan kuasa hukum, Umah meminta keadilan dari Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan anaknya datang ke pesantren untuk belajar agama, bukan untuk disiksa.

"Tolong pastikan hukum tidak pandang bulu meskipun pelakunya adalah anak tuan guru atau pemilik pondok pesantren. Nyawa anak saya tidak bisa dibeli dengan selembar kertas damai," katanya.

Polisi telah menetapkan dua tersangka, yakni pimpinan Ponpes Ahmad Muzakki Rahmatullah (AMR) dan MR (15), rekan korban sesama santri.

Kabid Humas Polda NTB Kombes Mohammad Kholid menjelaskan kasus ini terjadi pada 13 Desember 2025, namun penyelidikan baru dilakukan sejak awal Juni 2026 karena korban tidak segera melapor.

>>> Kapolri dan Jaksa Agung Jabat Tangan, Bantah Ada Perpecahan

Dua santri korban lainnya, Ahmad Deven Ramdan (14) dan Sahid Al Hudri (14), mengalami luka bakar. Satu santri lainnya yang tewas berinisial SS (14).