Essington School di Darwin, Australia, menghentikan program studi bahasa Indonesia pada 2025.

Padahal program ini sudah berjalan lama dan pernah menjalin kerja sama dengan SMA 10 Padang pada 2007 untuk pertukaran pelajar.

>>> Mitchell Baker Resmi Jadi WNI, Siap Bela Indonesia di Piala AFF 2026

Pihak sekolah menyatakan keputusan itu didasarkan pada tinjauan kurikulum, masukan orang tua, dan keterlibatan siswa. Mereka akan berkonsultasi dengan keluarga untuk menjajaki bahasa lain yang diminati.

Essington bukan satu-satunya sekolah yang menutup program bahasa Indonesia. Scotch College, sekolah elite di Melbourne, juga melakukannya pada awal 2025.

Bayu Prihantoro, asisten guru bahasa Indonesia di Scotch College, mengatakan murid-muridnya antusias belajar bahasa Indonesia. Namun program itu tiba-tiba dihapus dari kurikulum.

Penurunan Drastis di Berbagai Jenjang

Data Komite Tetap Dewan Perwakilan Rakyat Bidang Pendidikan Australia menunjukkan penurunan 75 persen pendaftaran universitas untuk studi bahasa Asia Tenggara dari 2005 hingga 2024.

Bahasa Indonesia mengalami penurunan hampir 60 persen pada siswa kelas 12 yang memilih bahasa tersebut dari 2010 hingga 2024.

Para ahli memperingatkan bahasa Indonesia bisa punah secara fungsional pada 2031 jika tren ini berlanjut.

Laporan Konsorsium Australia untuk Studi Indonesia di Dalam Negeri (ACICIS) mencatat hanya 13 perguruan tinggi di Australia yang masih menyelenggarakan program bahasa Indonesia pada 2023, turun dari sekitar 22 kampus dalam dua dekade terakhir.

Penyebab Menurunnya Minat

Presiden Asosiasi Guru Bahasa Indonesia Victoria (VILTA) Silvy Wantania mengatakan banyak orang Australia menganggap Indonesia kurang penting dibandingkan negara Barat atau Asia lainnya.

Mereka hanya suka ke Bali untuk berlibur.

Komite Tetap Dewan Perwakilan Rakyat Bidang Pendidikan mendengar dua alasan: AI akan menggantikan kebutuhan belajar bahasa, dan diaspora Australia-Asia akan mengisi kesenjangan pemahaman bahasa dan budaya.