Saraf kejepit sering dikaitkan dengan aktivitas berat seperti mengangkat beban atau cedera olahraga. Namun, kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele juga bisa menjadi pemicu.

Tekanan berulang pada saraf akibat kebiasaan ini kerap tidak disadari hingga gejala seperti nyeri, kesemutan, atau mati rasa muncul.

>>> Aktor 'Jurassic Park' Sam Neill Meninggal Dunia di Usia 78 Tahun

Apa Itu Saraf Kejepit?

Menurut Mayo Clinic, saraf kejepit terjadi ketika saraf mendapat tekanan dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang, otot, tendon, atau bantalan tulang belakang.

Kondisi ini dapat mengganggu fungsi saraf dan menimbulkan keluhan seperti nyeri, kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan otot.

Saraf kejepit bisa muncul di berbagai bagian tubuh, seperti leher, punggung, pergelangan tangan, atau punggung bawah. Pada punggung bawah, nyeri bisa menjalar ke kaki atau disebut linu panggul.

Kebiasaan Sehari-hari yang Meningkatkan Risiko

Tanpa disadari, beberapa kebiasaan sederhana dalam rutinitas sehari-hari dapat meningkatkan risiko saraf kejepit.

Berikut tiga kebiasaan yang perlu diwaspadai.

1. Terlalu lama dalam posisi yang sama.

Duduk berjam-jam di depan komputer, berbaring dengan posisi sama, atau menyilangkan kaki terlalu lama dapat memberi tekanan terus-menerus pada saraf.

Mempertahankan satu posisi tubuh dalam waktu lama meningkatkan risiko kompresi saraf. Disarankan untuk rutin mengubah posisi, berdiri, atau melakukan peregangan setiap beberapa waktu.

2. Terlalu sering melakukan gerakan berulang.

>>> Reuni di Fortuna Sittard, Ole Romeny Tak Sabar Satu Lapangan dengan Justin Hubner

Aktivitas seperti mengetik, menggunakan mouse, bekerja di lini produksi, atau olahraga dengan gerakan berulang dapat memberikan tekanan berulang pada saraf.

Risiko semakin besar jika aktivitas dilakukan tanpa jeda. Istirahat singkat dan peregangan dapat membantu mengurangi tekanan pada otot dan saraf.