China terus melaju, Inggris mengejar

Di kawasan Pasifik Barat, persaingan pengaruh China dan Amerika Serikat dinilai terus memanas.

Perkembangan rudal balistik China disebut dapat menjadi ancaman serius bagi keberadaan armada laut Amerika Serikat di Laut China Selatan dan wilayah sekitarnya.

China disebut memiliki kekuatan hipersonik paling besar di dunia. Pada akhir 2024, China mengungkap kendaraan hipersonik terbaru yang diberi nama GDF-600, dengan muatan 1.200 kilogram dan kemampuan membawa sub-munisi hingga kecepatan Mach 7.

Kerajaan Bersatu, yang disebut tertinggal dalam perlombaan ini, belakangan mulai mempercepat program risetnya.

Pada April, Kementerian Pertahanan Inggris dan Kementerian Sains serta Laboratorium Teknologi mengumumkan para ilmuwan telah mencapai “momen penting” setelah menyelesaikan program uji coba besar terkait propulsi.

Program itu dilaporkan merupakan kolaborasi pemerintah Inggris, industri, dan pemerintah Amerika Serikat.

Dalam enam pekan, tercatat 233 uji coba statis yang sukses berlangsung di Pusat Riset Langley NASA di Virginia, Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menyebut capaian tersebut sebagai “momen penting”, meski Inggris masih diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum sistemnya siap digunakan.

Dua sisi mata uang dalam perang rudal

Freer menilai penguatan kemampuan pertahanan sama pentingnya dengan kemampuan ofensif.

Menurutnya, perang rudal memiliki dua sisi: negara harus bisa membatasi dampak serangan sekaligus memiliki kemampuan menghancurkan sistem peluncuran lawan.

Ia menilai jika suatu pihak mampu bertahan sekaligus menyerang balik, lawan cenderung enggan memulai konflik.

Meski demikian, mantan komandan Angkatan Laut Kerajaan Bersatu Tom Sharpe menilai tantangan hipersonik masih jauh dari sempurna untuk semua pihak.

"Poin kunci dari hipersonik adalah kedua belah pihak masih sama-sama kesulitan dan belum ada yang sempurna," kata Sharpe.