Korea Utara disebut menggarap versi mereka sejak 2021 dan mengklaim sudah memiliki sistem yang berfungsi, sementara Iran menyatakan punya senjata hipersonik dan pernah mengumumkan rencana peluncuran ke arah Israel dalam perang 12 hari pada Juni.

Namun, dalam penilaian yang beredar, sistem yang diklaim Iran disebut memang melaju sangat cepat, tetapi kemampuan manuvernya diduga belum cukup untuk masuk kategori hipersonik yang sesungguhnya.

Amerika Serikat juga memperkenalkan sistem hipersonik yang diberi nama Dark Eagle. Dalam penjelasan Kementerian Pertahanan AS, senjata tersebut digambarkan sebagai simbol tekad dan daya mematikan teknologi hipersonik Angkatan Darat dan Angkatan Laut.

Apa yang membuat hipersonik berbahaya

Hipersonik merujuk pada kecepatan Mach 5 atau lebih, yakni lima kali kecepatan suara atau sekitar 6.208 kilometer per jam.

Kecepatan tersebut berada di atas kategori supersonik yang hanya berarti melampaui kecepatan suara.

Rusia disebut memiliki salah satu sistem tercepat, Avangard, yang diklaim mampu mencapai Mach 27. Namun, catatan kecepatan yang lebih umum disebut berada di sekitar Mach 12, atau setara 3,2 kilometer per detik.

Meski begitu, Freer menilai aspek yang membedakan hipersonik bukan semata daya hancurnya, melainkan tingkat kesulitannya untuk dideteksi, dipantau, dan dicegat.

Dua jenis senjata hipersonik

Secara umum, ada dua kategori utama. Pertama adalah rudal boost-glide, yang mengandalkan roket untuk mendorong sistem ke ketinggian sangat tinggi sebelum meluncur turun menuju sasaran dengan kecepatan ekstrem.

Dalam fase meluncur ini, kendaraan hipersonik dapat bergerak tidak menentu dan bermanuver, sehingga lintasannya sulit diprediksi dibanding rudal balistik tradisional.

Kedua adalah rudal jelajah hipersonik yang terbang lebih dekat ke permukaan, berupaya berada di bawah jangkauan radar agar tidak terdeteksi lebih awal.