Kedua jenis tersebut sama-sama diawali peluncuran menggunakan roket. Setelah mencapai kecepatan hipersonik, mesin scramjet dapat aktif, menyedot udara saat terbang untuk terus mendorong rudal menuju target.

Senjata hipersonik kerap disebut “berfungsi ganda” karena dapat membawa hulu ledak nuklir maupun peledak konvensional berkekuatan tinggi.

Namun, agar benar-benar masuk klasifikasi hipersonik, sistem itu harus mampu bermanuver, termasuk mengubah arah secara tiba-tiba pada kecepatan ekstrem.

Tantangan pertahanan dan perdebatan di kalangan pakar

Peneliti dari Missile Defence Project di Centre for Strategic and International Studies, Patrycja Bazylczyk, menilai rudal hipersonik sulit dideteksi dari radar darat hingga memasuki fase akhir penerbangan, yang membuat peluang pencegatan sangat terbatas.

Ia menyebut salah satu respons yang dipertimbangkan adalah memperkuat sensor luar angkasa untuk mengatasi keterbatasan radar berbasis darat.

Kekhawatiran serupa juga muncul di Amerika Serikat. Pada Februari, sebuah laporan Badan Riset Kongres AS memuat peringatan bahwa arsitektur sensor darat dan luar angkasa dinilai belum cukup memadai untuk mendeteksi dan melacak senjata hipersonik.

Di sisi lain, beberapa analis menilai antusiasme terhadap hipersonik cenderung berlebihan. Sidharth Kaushal dari Royal United Services Institute misalnya, menilai senjata hipersonik bukan terobosan yang sepenuhnya mengubah peperangan.

Menurutnya, kecepatan dan manuver memang menjadikan hipersonik menarik untuk melawan target bernilai tinggi, tetapi tetap ada cara-cara bertahan yang dinilai efektif, salah satunya membuat peluncur lebih sulit melacak target yang bergerak, khususnya di laut.

Kaushal juga menilai ketergantungan pada data satelit dapat menjadi titik lemah, karena citra satelit komersial yang kurang tajam hanya memberi gambaran lokasi target dalam waktu terbatas dan sulit diandalkan untuk pembaruan posisi secara terus-menerus.