Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan kecerdasan buatan dan teknologi lain berpotensi mengubah kalkulasi tersebut seiring waktu.

Rusia, klaim besar, dan dampak di Ukraina

Di tengah perlombaan itu, perhatian di Eropa banyak tertuju pada Rusia, terutama karena sejumlah sistem mereka sudah ditempatkan di wilayah Kaliningrad di pesisir Baltik.

Pada November 2024, Rusia meluncurkan rudal balistik jarak menengah eksperimental ke salah satu situs industri di Dnipro, Ukraina, yang disebut dipakai sebagai uji coba.

Ukraina menyatakan rudal itu melaju dengan kecepatan hipersonik Mach 11, sementara Presiden Vladimir Putin menyebut rudal bernama Oreshnik bergerak sekitar Mach 10.

Dalam laporan yang beredar, hulu ledaknya disebut dipecah menjadi beberapa proyektil lemah yang masing-masing memiliki sasaran, metode yang sudah dikenal sejak era Perang Dingin.

Dampak serangan itu dikisahkan tidak menimbulkan kerusakan yang jauh melampaui pengeboman rutin Rusia di sejumlah kota Ukraina, meski klaim tentang kecepatan dan kemampuan tetap menimbulkan perhatian luas.

Putin juga mengklaim Oreshnik akan diproduksi massal dan menyebutnya mampu mengubah target “menjadi debu”.

Rusia turut mempromosikan rudal lain seperti Kinzhal, yang pernah dipuji Putin sebagai sistem yang tidak bisa dicegat. Namun dalam praktiknya, banyak rudal Kinzhal yang ditembakkan ke Ukraina dilaporkan berhasil dicegat dan dinilai bukan benar-benar hipersonik.

Senjata Rusia yang terus menjadi perhatian Barat adalah Avangard yang diklaim sangat cepat dan bermanuver tinggi. Pada peluncuran 2018, Putin menyatakan Avangard tidak dapat dihentikan.

Kaushal menilai salah satu fungsi utama Avangard adalah untuk menghadapi pertahanan rudal Amerika Serikat, meski ia juga menduga kapasitas produksi Rusia untuk sistem seperti itu terbatas.