Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mempercepat integrasi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) olahan singkong ke dalam rantai pasok industri skala besar.

Langkah ini bertujuan memperluas akses pasar bagi pelaku usaha sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pengembangan industri berbasis komoditas lokal.

>>> JD Vance Tuding Pejabat Israel Manipulasi Opini Publik AS Gagalkan Kesepakatan Iran

Program tersebut merupakan implementasi Instruksi Menteri Perindustrian Nomor 2 Tahun 2026 tentang Program Vendor Development.

Program ini membangun kemitraan antara IKM dan industri besar melalui peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, hingga pemenuhan standar industri.

Pendampingan Teknis di Lampung Timur

Salah satu upaya Kemenperin adalah menggelar seminar dan pendampingan teknis produksi serta keamanan pangan bagi pelaku IKM olahan singkong di Kabupaten Lampung Timur.

Kegiatan ini diikuti 100 peserta yang terdiri atas pelaku IKM penghasil produk akhir maupun produk antara, serta gabungan kelompok tani.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, penguatan industri pangan memiliki peran strategis karena sektor ini terus menunjukkan kinerja positif.

Pada triwulan I 2026, industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen, tertinggi di antara subsektor industri pengolahan nonmigas.

>>> LG Monitor App Diduga Terinstal Otomatis Lewat Windows Update Tanpa Izin

Industri makanan dan minuman juga memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, yakni mencapai 7,31 persen.

Menurut Faisol, industri pangan kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, hingga fluktuasi harga bahan baku.

Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok komoditas mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Lampung dinilai memiliki posisi strategis sebagai sentra produksi singkong nasional.

Berdasarkan data 2024, produksi singkong di provinsi tersebut mencapai sekitar 7,9 juta ton atau lebih dari separuh total produksi nasional.

Kabupaten Lampung Timur sendiri menjadi salah satu pusat pengembangan industri pengolahan singkong karena telah memiliki ekosistem yang relatif lengkap, mulai dari petani, kelompok tani, hingga pelaku IKM.

>>> Rekaman Baru Ungkap Dugaan Provokasi Barco Sebelum Insiden dengan Bellingham

"Kami mendukung transformasi industri di Lampung Timur agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah yang memiliki daya saing lebih tinggi," ujar Faisol.