Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperluas pasar ekspor produk manufaktur Indonesia ke kawasan Afrika. Langkah terbaru adalah menjajaki kerja sama perdagangan preferensial dengan Maroko.

Pemerintah Indonesia dan Maroko mulai membahas pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA).

>>> Berhenti Unduh Aplikasi Produktivitas Setelah Menggabungkan Gemini dengan Google Sheets

Kesepakatan ini diharapkan memperkuat perdagangan bilateral dan membuka akses lebih luas ke pasar Afrika Utara serta kawasan Mediterania.

Selain meningkatkan ekspor, kerja sama ini juga bertujuan mengamankan pasokan bahan baku strategis bagi industri dalam negeri.

Maroko dikenal sebagai produsen fosfat dunia yang penting untuk industri pupuk Indonesia.

>>> Kuntadi Calon Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah Berharta Rp3,6 M

Tak hanya fosfat, aluminium juga menjadi komoditas yang diincar. Pasokan aluminium dari Maroko dinilai strategis untuk mendukung sektor manufaktur nasional.

Dengan adanya PTA, produk-produk Indonesia diharapkan bisa lebih kompetitif di pasar Maroko dan sekitarnya. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong ekspor nonmigas.

>>> Kuntadi Calon Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah Berharta Rp3,6 M

Kemenperin optimistis kerja sama ini akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan industri dalam negeri. Pasar Afrika dinilai memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal.