Saham Oracle Corporation (ORCL) menunjukkan volatilitas signifikan setelah mengalami penurunan harga sebesar 9% pada 13-14 Juli 2026. Secara year-to-date, saham perusahaan teknologi ini telah merosot 30%.

Penurunan ini terjadi di tengah kebutuhan investasi infrastruktur yang besar dan ketidakpastian pasar. Meski demikian, Oracle masih memiliki kewajiban kinerja sisa (RPO) sebesar $638 miliar.

>>> GKIDS Rilis Trailer Subtitle Inggris untuk Anime 'cocoon – One Summer of Girlhood'

Beban Keuangan dan Efisiensi Operasional

Oracle menutup tahun fiskal 2026 pada 31 Mei dengan utang sekitar $130 miliar. Perusahaan telah menginvestasikan $56 miliar dalam belanja modal selama tahun tersebut.

Di sisi lain, Oracle berhasil meningkatkan efisiensi operasional dengan memangkas sekitar 21.000 posisi atau 13% dari total karyawan.

Pertumbuhan aplikasi cloud mencapai 10% year-over-year, setara dengan rekan-rekan SaaS yang matang.

Kinerja Historis dan Risiko Pasar

Kontributor Forbes, Doug Nathman, menyatakan bahwa volatilitas pasar memengaruhi perusahaan perangkat lunak seperti Oracle, terutama yang berada di pusat ekspansi infrastruktur AI.

Menurutnya, penurunan dalam satu hari hanyalah indikasi, dan tantangan sebenarnya adalah menilai kinerja saham saat krisis pasar yang sesungguhnya.

Data historis menunjukkan bahwa saham Oracle sering mengikuti penurunan pasar secara luas.

Dalam 15 kali gangguan pasar yang dialami, Oracle mencatat penurunan rata-rata 18%, sedikit lebih tinggi dari penurunan S&P 500 sebesar 16%.

Penurunan terparah terjadi saat Krisis Keuangan Global 2008-2009, dengan penurunan 40%. Gangguan pasar pada 2025 menyebabkan penurunan 32%, dan pada 2022 turun 30%.

>>> ESPN Masukkan Lima Pemain Patriots dalam Daftar Nilai Tukar 2026

Nathman menekankan bahwa ketika pasar benar-benar runtuh, saham Oracle cenderung ikut turun secara substansial. Waktu pemulihan bervariasi, dengan median sekitar 4 bulan untuk kembali ke puncak sebelum krisis.