Fiksi ilmiah sering kali lebih mencerminkan zamannya daripada masa depan yang coba digambarkan. Namun, beberapa karya cyberpunk seperti Ghost in the Shell justru terbukti visioner.

Masamune Shirow, mangaka Jepang yang sebelumnya dikenal lewat Black Magic dan Appleseed, menciptakan Ghost in the Shell pada 1989 dengan pengaruh kuat dari William Gibson.

>>> Tuchel Tak Menyesal Usai Inggris Kalah Dramatis dari Argentina

Adaptasi film anime Mamoru Oshii pada 1995 membawa franchise ini menjadi ikon cyberpunk.

Baik Gibson maupun Shirow jauh melampaui zamannya, menampilkan dunia yang sangat terhubung seperti yang kita alami kini.

Karya mereka semakin relevan di tengah kapitalisme tahap akhir, dominasi perusahaan raksasa, dan kecerdasan buatan yang mengubah masyarakat.

Cyberbrain: Antarmuka Otak-Komputer

Teknologi paling transformatif dalam Ghost in the Shell adalah cyberbrain, implan yang memungkinkan akses langsung ke internet melalui otak.

Informasi mengalir langsung ke pikiran tanpa perlu keyboard atau layar.

Meski teknologi semacam itu belum ada, Elon Musk melalui Neuralink mengembangkan antarmuka otak-komputer dasar.

Alat ini terdiri dari 1000 elektroda pada serat ultra-tipis yang ditanamkan oleh robot khusus, dan saat ini sedang diuji coba di Inggris untuk membantu pasien lumpuh.

Selain Neuralink, perusahaan AS Paradromics mengembangkan Connexus untuk memulihkan bicara pada pasien penyakit neurologis parah.

Sementara itu, China menyetujui chip NEO yang membantu pemulihan mobilitas korban cedera tulang belakang, dengan metode operasi yang lebih tidak invasif.

Jarak masih panjang dari teknologi medis menuju implan sehari-hari, tetapi perkembangan ini menunjukkan arah yang sama dengan visi Shirow.

Tubuh Prostetik: Dari Lengan Bionik hingga Mata Bionik

Mayoritas karakter Ghost in the Shell, termasuk Mayor Motoko Kusanagi dan Batou, adalah cyborg dengan tubuh prostetik total.