Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai risiko siber dan penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi ancaman utama bagi sektor jasa keuangan.

OJK meminta seluruh pelaku industri untuk memperkuat tata kelola, manajemen risiko, dan akuntabilitas. Hal ini penting agar transformasi digital tidak meningkatkan kerentanan sektor keuangan.

>>> Mahfud MD: Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah Dimungkinkan Secara Yuridis

Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Wattimena, mengungkapkan temuan tersebut berasal dari survei Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang melibatkan praktisi industri jasa keuangan.

"Hasilnya menunjukkan bahwa risiko siber dan penyalahgunaan AI ini menjadi perhatian utama di samping risiko lain seperti perubahan regulasi, ketidakpastian geopolitik, dan perubahan iklim," kata Sophia dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Sophia menilai hasil survei tersebut sejalan dengan berbagai survei global yang juga menempatkan ancaman siber dan tata kelola AI sebagai risiko terbesar organisasi di berbagai negara.

Di sisi lain, AI juga menjadi peluang bagi industri untuk meningkatkan efisiensi. Implementasinya perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko yang memadai.

OJK juga menyoroti data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang menunjukkan anomali transaksi di sektor jasa keuangan masih tinggi.

>>> Ramalan Zodiak Cinta 14 Juli: Virgo Redam Ego, Taurus Beri Kejutan

Hal ini menjadi sinyal perlunya penguatan pengawasan secara terintegrasi.

"Kami juga mencoba melihat dari data-data dari BSSN, dan ditunjukkan di situ bahwa memang anomali transaction itu cukup signifikan dan tentunya ini perlu menjadi perhatian kita bersama secara terintegrasi dan kolaboratif serta didukung oleh tata kelola dan akuntabilitas yang kuat," ujar Sophia.

Sebagai respons, OJK menggelar Risk & Governance Summit 2026 sebagai forum untuk memperkuat implementasi tata kelola dan manajemen risiko di industri jasa keuangan.

Forum ini juga diharapkan mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Sophia menilai perkembangan teknologi membuat lanskap risiko berubah lebih cepat dibandingkan kemampuan beradaptasi. Penerapan governance, risk, and compliance tidak lagi sekadar kepatuhan, melainkan fondasi ketahanan sektor jasa keuangan.

>>> Robot AI Jadi Model Catwalk, Netizen Sebut Mirip Zombi Berjalan

"Saat ini kita menghadapi risiko yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi atau institusi untuk mengadaptasinya," ujarnya.