Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyambut baik keputusan Standard & Poor's Global Ratings (S&P) yang kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.

Menurut Purbaya, keputusan ini merupakan pengakuan atas konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan melanjutkan reformasi struktural.

>>> Kebakaran Hutan di Prancis, Tol A6 Ditutup

"Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel," ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Senin (13/7).

Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan dikelola secara prudent, efisien, dan berkelanjutan.

Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

S&P memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan meskipun harga bahan bakar meningkat.

Lembaga pemeringkat itu menilai kebijakan hilirisasi dan upaya pemerintah memperkuat kendali atas sektor mineral serta sumber daya alam berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan ekspor.

Namun, kecepatan perubahan kebijakan dan ketidakpastian implementasinya dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor serta menekan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan.

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, didorong oleh belanja saat libur panjang dan percepatan realisasi belanja pemerintah.

Di sisi lain, pasar keuangan mengalami tekanan besar pada paruh pertama 2026.

Indeks saham acuan kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar, sedangkan rupiah melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS.

Menurut S&P, perbedaan kinerja antara sektor riil dan pasar keuangan mencerminkan tingginya ketidakpastian global maupun domestik.