Risiko dan Prospek ke Depan

Selain dampak tarif Amerika Serikat yang mulai mereda, perang di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz menciptakan risiko baru bagi kawasan.

Indonesia juga dinilai rentan karena masih menjadi importir bersih minyak mentah dan BBM, meski merupakan eksportir LNG, batu bara, minyak sawit mentah (CPO), nikel, bauksit, dan tembaga.

Kenaikan harga komoditas selain minyak belum mampu mengimbangi lonjakan harga minyak dunia, sehingga neraca perdagangan Indonesia terus memburuk sejak Maret akibat meningkatnya biaya impor bahan bakar dan pakan ternak.

S&P menilai pembentukan Danantara telah mengubah struktur BUMN melalui konsolidasi dan penyederhanaan lini usaha non-inti.

Sementara itu, pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diperkirakan akan mengubah sektor ekspor komoditas melalui upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara dan ekspor dengan memberantas praktik seperti under invoicing dan transfer pricing.

>>> Resmi: Manchester United Rekrut Andrey Santos dari Chelsea

Meski demikian, perubahan tersebut muncul di tengah berbagai kebijakan baru di sektor sumber daya alam seperti kuota produksi, kewajiban devisa hasil ekspor, tata kelola izin tambang, dan perubahan royalti.

Apabila tidak dikelola dengan baik, kebijakan-kebijakan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Namun, S&P menegaskan hal itu bukan skenario dasar mereka karena pemerintah dinilai menunjukkan fleksibilitas dalam merespons masukan dari pelaku industri.

S&P memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2026, sebelum rata-rata berada di 4,9 persen per tahun sepanjang 2026-2029.

Pendapatan per kapita diperkirakan mencapai sekitar US$5.200 pada tahun ini, naik tipis dari US$5.100 pada 2025 akibat pelemahan rupiah yang mengurangi dampak pertumbuhan nominal PDB.