Bulgaria bersiap menjadi anggota ke-21 zona euro pada 1 Januari 2026, di tengah gejolak politik domestik dan kekhawatiran akan disinformasi yang diduga berasal dari Rusia.

Negara Balkan berpenduduk 6,5 juta jiwa ini berharap adopsi mata uang tunggal dapat mendorong perekonomian dan memperkuat orientasi pro-Barat.

>>> Viral! Sederet Nyinyiran Kejam dr. Ayu kepada Amanda Zahra Terbongkar: Dari Sebutan "Muka Unoriginal" hingga Permintaan Maaf yang Menggemparkan

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa euro akan membawa lebih banyak perdagangan, investasi, serta lapangan kerja dan pendapatan riil yang lebih baik bagi Bulgaria.

Komisioner Ekonomi Valdis Dombrovskis menekankan langkah ini penting di tengah perang Rusia di Ukraina dan ketidakpastian ekonomi global.

"Sebagian besar negara Eropa, termasuk Bulgaria, terlalu kecil untuk membentuk dunia saat ini sendirian.

Mereka hanya bisa mendapatkan bobot yang diperlukan dengan berintegrasi penuh ke dalam struktur politik dan ekonomi Uni Eropa yang lebih besar," ujarnya saat berkunjung ke Sofia.

Perpecahan Publik dan Kekhawatiran Inflasi

Meskipun ada manfaat yang dijanjikan, warga Bulgaria masih terbelah. Survei Kementerian Keuangan menunjukkan 51% mendukung euro, sementara 45% menentang.

Ketegangan politik memuncak pada Juni 2025 ketika anggota parlemen dari partai pro-Rusia Revival memblokir podium saat persetujuan masuk euro oleh Komisi Eropa.

Petar Ganev, peneliti senior di Institute of Market Economics di Sofia, mengatakan perpecahan ini mencerminkan ketegangan politik yang lebih luas.

"Negara ini terpecah hampir dalam segala hal yang bisa dibayangkan. Setelah ketidakstabilan politik, kami berakhir di lingkungan politik yang sangat bermusuhan," kata Ganev.

Krisis politik selama empat tahun yang ditandai tujuh kali pemilu dan korupsi meluas telah mengikis kepercayaan pada pemerintah.