Perum Bulog menjalin kerja sama dengan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Seluruh Indonesia (Perpadi) untuk mengolah 2 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) menjadi beras komersial premium.

Langkah ini diambil karena Bulog mengaku tidak memiliki kapasitas penggilingan yang memadai untuk menyelesaikan target tersebut dalam waktu sekitar empat bulan.

>>> Komisi III DPR Nilai Pengalihan Kasus Febrie ke Kejagung Jalan Terbaik

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan kerja sama itu merupakan bagian dari persiapan pemerintah mengolah stok CBP menjadi beras komersial sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selaku Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).

"Bulog sendiri tidak akan mampu untuk mengolah sebesar itu.

Oleh karena itu kami bersinergi dengan Perpadi untuk mengolah cadangan beras pemerintah sejumlah 2 juta ton menjadi beras komersial," ujar Rizal usai rapat koordinasi bersama Perpadi di Kantor Pusat Bulog, Jakarta Selatan, Senin (13/7).

Menurut Rizal, seluruh perwakilan Perpadi dari berbagai daerah telah menyatakan kesediaannya mendukung program tersebut.

Kerja sama itu juga merupakan kelanjutan sinergi yang sebelumnya dilakukan dalam penyerapan gabah dan beras petani.

Ia menjelaskan seluruh beras yang akan diolah berasal dari stok CBP yang saat ini tersimpan di gudang Bulog.

Beras tersebut nantinya diproses kembali melalui mekanisme rice to rice hingga memenuhi standar beras premium.

"Betul sekali, menjadi premium. Jadi tidak hanya pengadaan ataupun serapan gabah menjadi beras, tapi juga pengolahannya menjadi beras premium," ujarnya.

Rizal menambahkan konsep pengolahan tersebut juga akan dibawa ke rapat koordinasi terbatas (rakortas) pemerintah.

Sebelumnya, Bulog telah mengusulkan rebranding beras SPHP menjadi Beras Kita yang juga disiapkan dengan target produksi sekitar 2 juta ton.