Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menegaskan peran humas semakin krusial di tengah derasnya arus disinformasi, misinformasi, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, humas tidak lagi sekadar penyampai informasi, melainkan harus menjadi penjernih informasi atau clearing house of information yang menjaga kepercayaan publik.

>>> Ramalan Zodiak Cinta 12 Juli: Pisces Kurang Harmonis, Taurus Jaga Ucapan

"Peran humas menjadi sangat penting ketika noise dalam lanskap komunikasi semakin besar.

Disinformasi, misinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian hadir begitu deras melalui perangkat digital," ujar Nezar dalam acara Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di Jakarta Pusat, dikutip Minggu (12/7/2026).

Ia menambahkan bahwa dunia saat ini memasuki era post-truth, di mana batas antara fakta dan fiksi semakin kabur.

Opini publik lebih mudah dipengaruhi sentimen dibandingkan fakta.

Kondisi tersebut diperkuat oleh platform digital yang menjadikan telepon pintar sebagai sumber utama informasi masyarakat.

Nezar mengutip kajian World Economic Forum yang menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu risiko global paling berbahaya.

Penilaian itu lahir dari riset terhadap para pemimpin dunia dan pelaku industri.

"Disinformasi bukan lagi persoalan komunikasi semata, tetapi sudah menjadi ancaman global. Organisasi profesi seperti PERHUMAS memiliki posisi strategis untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel," jelasnya.

AI Buka Peluang dan Ancaman bagi Humas

Di sisi lain, Nezar menilai kemajuan AI membuka peluang besar bagi profesi humas untuk meningkatkan efektivitas komunikasi.

Berdasarkan studi One Asia Communications tahun 2025, praktisi humas di Asia semakin memanfaatkan AI untuk analisis sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi pesan, hingga meningkatkan kualitas storytelling.