Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan AI harus dibarengi tata kelola yang baik dan berlandaskan etika.

>>> Countdown Tayang Besok! Intip Sinopsis 'Dream to You', Reuni Manis Hwang In Youp dan Hyeri dari Penulis 'Goblin'

AI hanyalah alat bantu yang tidak boleh menghilangkan tanggung jawab profesional maupun nilai-nilai kemanusiaan.

"Teknologi dapat membantu menghasilkan konten dengan cepat, tetapi kepercayaan publik dibangun oleh integritas, empati, dan ketulusan. Sampai hari ini, AI masih belum mampu menghadirkan sincerity," tuturnya.

Nezar juga menyoroti munculnya teknologi agentic AI yang mulai mampu menjalankan fungsi kehumasan, mulai dari membaca data, menyusun strategi komunikasi, hingga membangun narasi secara otomatis selama 24 jam.

Perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi profesi humas untuk terus meningkatkan kompetensi agar tidak tergeser oleh otomatisasi.

Ia mendorong insan humas tidak hanya menguasai AI, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, memahami konteks sosial, serta menjaga etika komunikasi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin.

Pemerintah di berbagai negara masih mencari formulasi terbaik dalam mengatur perkembangan AI. Nezar menjelaskan, saat ini berkembang dua pendekatan utama dalam tata kelola AI.

Pendekatan pertama melalui regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sementara pendekatan kedua menekankan pengaturan berdasarkan prinsip transparansi, akuntabilitas, keamanan, dan non-diskriminasi.

"Perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan proses penyusunan regulasi. Tata kelola AI membutuhkan keseimbangan antara regulasi adaptif dengan prinsip etika yang kuat," ujarnya.

Nezar menilai perkembangan AI tidak dapat dilepaskan dari dinamika geopolitik global. Persaingan penguasaan teknologi menjadikan teknologi sebagai instrumen politik dan strategi nasional.

Di tengah perubahan tersebut, Indonesia harus mampu membangun narasi yang konstruktif sekaligus memperkuat kualitas komunikasi publik.

Menurutnya, Konvensi Humas Indonesia 2026 menjadi momentum penting untuk merumuskan strategi kehumasan yang adaptif terhadap AI sekaligus memperkuat etika profesi.

>>> Tecno Pova 8 Resmi Masuk Indonesia 15 Juli, Harga Mulai Rp3 Jutaan

"Saya berharap Konvensi Humas Indonesia menjadi ruang untuk menjawab tantangan AI, memperkuat tata kelola teknologi dalam profesi humas, mengembangkan strategi Generative Engine Optimization (GEO), serta membangun narasi yang konstruktif agar Indonesia terus berbicara baik kepada dunia," pungkasnya.