Eks Diplomat AS: Serangan ke Iran Ubah Peta Timur Tengah, Iran Makin Berbahaya
Serangan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai menjadi titik balik yang mengubah peta keamanan Timur Tengah.
Alih-alih menciptakan stabilitas, langkah tersebut justru memicu kondisi baru yang membuat musuh berpotensi tampil lebih berbahaya.
>>> Febrie Adriansyah Disebut Tangan Besi Jokowi untuk Kuasai Golkar
Eks Diplomat Senior AS dan anggota tim negosiasi Perjanjian Nuklir Iran 2015, Alan Eyre, mengatakan bahwa perang tahun ini telah merusak tatanan strategis yang terbentuk di Teluk Persia.
"Dengan perang pada bulan lalu, dan sampai batas tertentu juga tahun lalu, presiden (Donald Trump) telah mengambil sistem yang kompleks dan merusaknya," kata Eyre, dikutip Senin (13/7).
Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut selama ini memiliki keseimbangan strategis yang terbentuk dari berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan.
Namun, intervensi militer terbaru membuat keseimbangan itu runtuh.
"Ini akan membutuhkan waktu bagi sistem yang kompleks di kawasan tersebut untuk menemukan keseimbangan baru. Saya tidak tahu berapa lama, saya tidak tahu akan seperti apa.
Tetapi yang kita tahu, kondisinya tidak akan seperti sebelumnya," ujarnya.
Menurut Eyre, kondisi tersebut menjadi kabar buruk bagi stabilitas regional. Timur Tengah akan memasuki fase yang lebih tidak menentu dibandingkan sebelumnya.
>>> Qarrar Firhand Cetak Sejarah, Juara WSK Euro Series 2026
"Hal itu sangat disayangkan, karena kawasan baru ini akan jauh lebih tidak stabil. Iran di sisi lain juga akan menjadi jauh lebih berbahaya," katanya.
Amerika Serikat kemungkinan harus menerima pengaruh yang lebih besar dari Iran di Selat Hormuz.
Hal itu bisa menjadi kunci jika mereka ingin membuka kembali ruang diplomasi terkait program nuklir Teheran.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Ketidakstabilan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak global dan meningkatkan risiko ekonomi internasional.
Menurut Eyre, perubahan keseimbangan kekuatan yang dipicu operasi militer akan menciptakan tantangan baru yang lebih rumit dibandingkan sebelum perang pecah.
Iran yang semakin agresif akan membuat upaya diplomasi dan pengamanan jalur perdagangan menghadapi hambatan lebih besar.
>>> 100 Kata-kata Motivasi Singkat yang Bikin Semangat Jalani Hari
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi membentuk wajah baru yang lebih sulit diprediksi dan rentan terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Update Terbaru
Polda Metro dan Kejaksaan Minta Hakim Tolak Praperadilan Roy Suryo
Senin / 13-07-2026, 12:38 WIB
PT PMMP Terjerat Utang Rp2,8 Triliun, Ungkap Peran Kaesang
Senin / 13-07-2026, 12:38 WIB
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi, Jokowi Dinilai Resah
Senin / 13-07-2026, 12:37 WIB
Anies Baswedan Ungkap 'Membesarkan yang Kecil', Netizen Sindir 'Lupa Sama yang Membesarkan'
Senin / 13-07-2026, 12:36 WIB
Pelemahan Rupiah Tekan Profitabilitas Asuransi Kesehatan
Senin / 13-07-2026, 12:36 WIB
Airlangga Pastikan PFII Tetap di Bali, PP Dikebut Sebelum 16 Agustus
Senin / 13-07-2026, 12:35 WIB
Video dan Gambar Motorola Edge 70 Max Bocor Jelang Peluncuran
Senin / 13-07-2026, 12:35 WIB
Redmi Turbo 6 Series Dikabarkan Punya Baterai 10.000 mAh dan Chipset Dimensity
Senin / 13-07-2026, 12:35 WIB
5 Kandungan Skincare Efektif untuk Menghilangkan Bekas Jerawat
Senin / 13-07-2026, 12:35 WIB
Kecelakaan Maut di Jalur Pantura Indramayu, 13 Orang Tewas
Senin / 13-07-2026, 12:35 WIB
Periksa Gigi Berujung Petaka, 12 Gigi Lansia Ini Dicabut Sekaligus
Senin / 13-07-2026, 12:33 WIB
Kenapa Jalan Tol Sering Diperbaiki? Ternyata Gara-gara Truk ODOL
Senin / 13-07-2026, 12:33 WIB
Indonesia Andalkan Nikel demi Rebut Posisi di Era AI Global
Senin / 13-07-2026, 12:32 WIB
Disney+ Andalkan Sekuel 'A Shop for Killers' untuk Saingi Netflix
Senin / 13-07-2026, 12:28 WIB







