NASA meluncurkan Curiosity menuju Mars pada November 2011 dengan misi yang direncanakan berlangsung sekitar dua tahun Bumi.

Hampir 14 tahun setelah mendarat di Kawah Gale, rover seukuran SUV kecil itu masih mendaki Gunung Sharp, mengebor batuan, dan membaca memori lingkungan planet yang dulunya sangat berbeda dari gurun beku yang terlihat sekarang.

>>> XLSmart Kuasai 700 MHz, Telkomsel Unggul di 2,6 GHz

Temuan utamanya bukanlah bahwa Curiosity menemukan kehidupan—ia tidak menemukannya.

Yang telah dilakukannya adalah terus menemukan jenis kimia dan geologi yang membuat para ilmuwan mengajukan pertanyaan yang lebih tajam: berapa lama Mars purba tetap ramah bagi mikroba untuk bertahan hidup, jika mereka pernah ada di sana?

Rover yang Dibangun untuk Mengajukan Satu Pertanyaan

Misi Curiosity sederhana untuk dinyatakan tetapi sulit dijawab.

NASA merancangnya untuk mencari tahu apakah Mars pernah memiliki kondisi yang dapat mendukung kehidupan mikroba, bukan untuk membuktikan bahwa kehidupan Mars pernah ada.

Perbedaan itu penting. Lingkungan yang layak huni berarti air, kimia yang berguna, dan sumber energi—komponen dasar rumah mikroba.

Kendaraan itu sendiri bukanlah mesin kecil.

NASA menggambarkan Curiosity memiliki panjang sekitar 10 kaki, lebar 9 kaki, dan tinggi 7 kaki, dengan berat 1.982 pon di Bumi, dilengkapi laboratorium geologi, 17 kamera, dan laser penguap batuan.

Pendaratan yang Menjadi Terobosan

Sebelum Curiosity dapat melakukan sains, NASA harus mendaratkan hampir satu ton perangkat keras di planet dengan atmosfer yang terlalu tipis untuk parasut saja menyelesaikan pekerjaan.

Jawabannya adalah sky crane, tahap penurunan yang dikendalikan jet yang menurunkan rover dengan kabel lalu terbang menjauh. Kedengarannya berisiko karena memang baru.