Google meluncurkan fitur deteksi panggilan palsu (fake call detection) pada aplikasi Phone.

Fitur ini dirancang untuk melindungi pengguna Android dari penipuan siber yang menggunakan teknologi peniruan suara berbasis kecerdasan buatan (AI).

>>> 5 Tanda Anak Cemburu pada Adik Baru dan Cara Menanganinya

Fitur ini diklaim sebagai perlindungan pertama di industri yang mampu mendeteksi dan menandai panggilan hasil rekayasa spoofing.

Fitur bekerja jika pengguna dan kontak penelepon sama-sama menggunakan aplikasi Phone by Google.

Fitur ini melengkapi perlindungan verified financial calls yang sebelumnya dirilis Google. Fitur tersebut memperingatkan pengguna jika ada penipu yang menyamar sebagai lembaga keuangan.

Ancaman Penipuan Berbasis AI

Menurut Google, penipuan berbasis peniruan identitas menjadi ancaman yang terus meningkat secara global.

Laporan Global Financial Fraud Threat Assessment dari Interpol pada Maret 2026 menyebut penipuan ini sebagai penyumbang utama kerugian global yang mencapai lebih dari US$400 miliar atau sekitar Rp7.188,8 triliun.

Di Amerika Serikat, Komisi Perdagangan Federal (FTC) mencatat penipuan berbasis peniruan identitas sebagai jenis penipuan yang paling banyak dilaporkan.

Total kerugian mencapai US$2,95 miliar pada 2024 dan terus bertambah secara global.

Google menjelaskan modus penipuan ini menggabungkan dua taktik.

Pertama, pelaku merekayasa nomor telepon (spoofing) melalui perangkat lunak berbasis internet sehingga panggilan tampak berasal dari nomor kontak yang dikenal korban.

>>> Harga Emas Antam Turun Rp14 Ribu ke Level Rp2,641 Juta per Gram

Kedua, pelaku menggunakan teknologi deepfake AI untuk meniru suara sosok yang memiliki otoritas, anggota keluarga, atau atasan korban.

Google mengklaim deepfake suara berbasis AI saat ini sudah sangat realistis sehingga sulit dibedakan dari suara asli.