Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan operasi gabungan angkatan laut dan udara yang menargetkan 85 lokasi fasilitas militer penting milik Amerika Serikat di Timur Tengah.

Serangan menggunakan rudal dan drone ini merupakan balasan atas serangan udara terbaru AS ke sejumlah wilayah di selatan Iran dekat Selat Hormuz pada Selasa (7/7) malam waktu setempat.

>>> Mesir Tuntut FIFA Investigasi Wasit Kontroversial lawan Argentina

Menurut laporan Al Jazeera, IRGC menyebut serangan tersebut menghantam pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.

Militer Kuwait mengumumkan sedang merespons 'serangan rudal dan drone musuh' dan mengimbau masyarakat untuk mematuhi instruksi keselamatan.

Dalam pernyataan resmi, militer Kuwait menegaskan setiap ledakan yang terdengar merupakan hasil dari upaya pencegatan yang berhasil.

>>> Profil Sosok Dody Hanggodo, Menteri PU yang Diisukan Bawa Istri dan Anak ke AS Pakai APBN, Sekjen Beri Penjelasan

Sirene peringatan serangan udara juga meraung-raung di Bahrain. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan segera menuju tempat aman terdekat.

IRGC menyebut serangan balasan ini sebagai 'respons awal' atas pelanggaran gencatan senjata dan Perjanjian Islamabad oleh AS.

Serangan AS terjadi saat Teheran dan Washington sedang dalam masa gencatan senjata dan telah meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang di Swiss beberapa pekan terakhir.

>>> Mega Millions Umumkan Nomor Pemenang Jackpot Rp9 Triliun

IRGC juga menuturkan serangan AS berlangsung di tengah prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu.