Menurut Bahlil, rencana E20 merupakan hasil evaluasi keberhasilan program biodiesel yang lebih dulu diterapkan pada solar.

"Kita harus geser ke nabati berangkat dari belajar biodiesel yang dipakai untuk solar.

Maka muncul lah ide saya waktu itu malam-malam saya duduk berpikir kalau solar kita bisa pakai CPO kenapa tidak kita pakai lagi nabati lain untuk bensin?"

ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa awal Mei 2026.

Bahlil menyebut pengembangan bioetanol turut terinspirasi dari negara-negara yang lebih dulu menerapkannya. Ia bahkan melakukan studi banding ke Brasil dan sejumlah negara lain.

"Saya belajar, ternyata di Brasil itu sudah mandatori E30 bahkan di beberapa negara bagian sudah E100," katanya.

Bioetanol dapat diproduksi dari berbagai bahan baku seperti jagung, tebu, dan singkong yang melimpah di Indonesia.

Untuk kebutuhan awal, pemerintah membuka opsi impor bioetanol yang sifatnya sementara sembari mendorong peningkatan produksi dalam negeri.

Bahlil memperkirakan penerapan E20 pada 2028 setidaknya membutuhkan sekitar 8 juta kiloliter bioetanol.

Sementara itu, impor bensin Indonesia saat ini masih berada di kisaran 20 juta kiloliter per tahun.

"Kalau kita bikin etanol E20 berarti mandatori-nya di 2028 delapan juta. Kalau sekarang kita impor 20 juta, kita mandatori 20 persen kurang 8 juta lagi.

>>> Unsrat Tunggu Hasil Investigasi Kematian Dokter PPDS Diduga Korban Bully

Jadi importir kurang tinggal 12 juta," ungkap Bahlil.